Menemukan Inspirasi

Inspirasi itu bisa didapat dari siapa dan di mana saja, Taq! Kata Muneera menyemangati. Semangat itu telah memaksa saya memeras pikiran, menemukan judul yang tepat bagi risalah  saya. Beberapa sudah saya tulis dalam lembar pengingat,  dari tema tumbuhan, hewan sampai Baet el Maqdes. Ragam tema itu cukup membuat saya bingung untuk memilih. Menimbang maslahat dan manfaat,  juga kemampuan saya.

Dr. Ali Mahmady –Allah yahfadzuhu– sebagai guru Usul Fiqh semester ini, sekaligus anggota Majelis Qism, menjadi tempat konsultasi yang tepat. Allah jualah yang mengatur semuanya. Beliau begitu mengkhawatiri risalah kami. Setiap pertemuan beliau memberi waktu untuk kami konsultasi, mengarahkan kami menemukan topik yang tepat untuk kami jadikan bahasan bagi Risalah kami.

“Menulis Risalah itu jangan hanya sekedar menulis untuk memenuhi syarat menyandang gelar master. Jadikan Risalah kalian adalah jawaban bagi pertanyaan umat!” Nasehat emas yang menggerakkan kami untuk terus mencari, menyelami lautan tanpa tepi Ilmu Allah. Hingga kami menemukan ‘sesuatu’ yang berharga bagi kehidupan dunia akhirat kami.

Tentu saja setelah istisharah guru sudah tertunaikan. Saatnya istikharah digelar dan dipanjatkan. Hingga keyakinan bahwa yang berlaku adalah kebaikan yang Allah pilihkan untuk kehidupan dunia akhirat saya. Menguatkan tawakkal saya pada Dzat Penggenggam keseluruhan hidup saya.

#KembaliMengejaJalanPulang

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Bayt Al Maqdes

Nama itu mengusik saya untuk kembali menelisiki diri saya, adakah diri saya mengakui kesuciannya? Seberapa besar peduli saya terhadapnya? Seberapa saya mencintainya? Nama itu tidak asing. Sejak kecil Allah taqdirkan saya akrab dengan nama tersebut. Setiap tanggal 27 Rajab Ayah saya membahas kitab Al Dardeer ‘Ala Qissah Al Mi’raj. Sebuah kitab yang membahas peristiwa dari A-Z peristiwa perjalanan malam Nabi Saw dari Masjid Al Haram ke Masjid Al Aqsha kemudian naik ke langit hingga ke Sidratil Muntaha.

Rutinitas tersebut seharusnya membekali saya pemahaman yang utuh dan matang, bagaimana saya memposisikan nama tersebut dalam kehidupan saya. Namun sangat disayangkan, hal tersebut selama ini kajian tersebut hanya sekedar rutinitas belaka. Ternyata belum mampu menyadarkan saya bahwa nama tersebut harus menjadi bagian dari aqidah saya. Harus menjadi bagian dari upaya juang hidup saya di dunia ini.

Allah kemudian menaqdirkan saya bertemu dengan sebuah tulisan yang menyadarkan itu semua. Tulisan yang diberi tajuk “Gaza tidak Membutuhkanmu!”. Ditulis oleh Santi Soekanto -semoga Allah menjaganya-, salah seorang dari 12 Relawan Indonesia yang menjadi tim Freedom Flotilla to Gaza yang membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza. Tulisan tersebut Allah taqdirkan mengubah cara pandang saya yang selama ini memandang ‘nama’ tersebut sekedar nama yang hanya cukup diketahui sebagai bagian dari sejarah Islam.  Menjadi idealisme baru, bahwa  Bait Al Maqdes merupakan bagian identitas saya sebagai seorang  muslim yang mengharuskan saya untuk menjadi bagian dari perjuangan pembebasannya, ketika saat ini negeri tersebut sedang dalam jajahan bangsa yang sama sekali tidak memilki hak atas negeri tersebut.

Tulisan tersebut juga menjadi wasilah saya mengenal  Sahabat Al Aqsha. Sebuah lembaga kemanusiaan yang didirikan oleh penulis dengan suaminya. Hingga tahun 2012 Allah taqdirkan saya berinteraksi dengan lembaga tersebut dalam sebuah program “Nobar Film Tears of Gaza”. Saat itu melalui FLP Saudi Arabia, untuk pertama kali Allah taqdirkan saya bermuamalah dengan inspiring pasutri –Allah yahfadhuhuma– ini, walau melalui interaksi jarak jauh, namun kesempatan tersebut berhasil menyuntikkan semangat untuk melakukan ‘sesuatu’ bagi pembebasan Masjid Al Aqsha dari penjajahan Israel.

Melalui tulisan tersebut, Allah mempersaudarakan saya dengan anak-anak ideologisnya yang juga keponakan kandung mereka. Hingga kemudian saya  memanggil pasutri ini dengan Ode Santi dan Paman Dzikru, sebagaimana mereka dipanggil oleh anak-anaknya. Tentu saja menjadi keponakan ideologis keduanya adalah anugerah yang harus saya syukuri. Semoga ridho Allah & surga menjadi muara ukhuwah ini.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Inspiring Hafidzah

Amera namanya. Teman sekamar saya saat di asrama. Muslimah Mesir. Salah seorang Inspiring hafidzah yang Allah sempatkan saya menyerap langsung pendar cerlangnya.
 
Sejak dua belas tahun dalam usianya, Allah memuliakan otaknya bermemori keseluruhan Al Quran. Ibundanya yang tumbuh dari keluarga yang tidak peduli dengan pendidikan agama, Allah buka jalan hidayah baginya dengan tumbuhnya keinginan untuk mengganti pola jahili yang sedang memenuhi memori otaknya dengan Al Quran. Saat itu Amera masih balita. Itulah kemudian sunnatullah berlaku, seorang anak akan selalu mengikuti trend ibunya. Ibunya menghafal maka anaknya akan ikut menghafal. Hingga kemudian anak-ibu ini menjadi teman menghafal dan muraja’ah yang menyenangkan.
 
Amera selesai hafalannya, sang Ibu baru 10 juz berhasil dihafalnya. Apakah kemudian beliau berhenti? Tentu saja tidak. Selain karena tekadnya mengganti pola jahili yang sudah lama mengendapi memori otaknya dengan Al Quran, beliau juga ingin menemani tumbuh-kembang anak-anaknya -amera dan adikadiknya- dengan Al Quran. Maka beliaupun pantang menghentikan proyeknya, walau kemudian amera sudah berhasil bermemori Al Quran. Proyek itu pun terus bekerja membersamai tumbuh-kembang amera dan adik-adiknya.
 
Saat ini adik bungsunya sudah berusia 9 tahun dan telah berhasil menyelesaikan hafalannya. Bersama itu pula sang ibunda telah menyelesaikan qira’ah sab’ahnya.
 
Seorang yang memorinya Al Quran itu memiliki daya serap terhadap ilmu yang cepat, dibanding yang memori otaknya bukan Al Quran. Hal ini dapat saya lihat pada Amera dan keseluruhan keluarganya. Akselerasi hampir di semua jenjang pendidikannya. Usia 18 sudah selesaikan S1 kitab wa sunnah dari UQU.
 
Sejak kecil terbiasa dan menyukai membaca dan menulis. Tidak heran jika kemudian ia menjadi tempat terakhir sebagian besar kami wafidat saat itu, ketika kami deadlock untuk menyelesaikan tugas-tugas ta’bir. Sebuah kelemahan yang jamak dimiliki oleh para pemula dalam pembelajaran bahasa arab.
 
Ibunda Amera menjadi Ibu ideologis saya. Setiap hari Amera menelpon ibunya.Sesekali beliau menyapa saya. Menanyakan sudah makan siang, belajar dan detail aktifitas lainnya.
 
“Bersama Al Quran itu proyek sepanjang hidup, Taqoo!” Itu salah satu pesan beliau.
 
Amera saat ini telah berkeluarga. Allah karunia satu bidadari dan satu pangeran. Kami masih komunikasi melalui group WA yang berisikan teman-teman yang sempat satu asrama. Amera jarang online, karena ia tidak ingin anaknya melihatnya memegang hp. Dia pegang hp ketika anak-anaknya sudah pada tidur.
 
Anaknya yang paling tua saat ini berusia empat tahun. Sering protes kepadanya, setelah dia bertekad mengubah bahasa ‘ammiyahnya menjadi fusha. Tidak hanya protes, heran dan bengong menjadi ekspresi kebingungan anaknya melihat perubahan drastis Ibunya. Hal itu terjadi satu dua bulan awal perubahannya menggunakan bahasa fusha sebagai bahasa kesehariannya.
 
Hal tersebut bukan tanpa sebab. Justru karena kesadaran baru akan pentingnya bahasa Arab menjadi salah satu identitas keberislamannyalah, perubahan radikal itu diambilnya. Awalnya ia memulainya dengan suaminya setelah suaminya baru kemudian dengan anak-anaknya. Kini dia berhasil mengajak dua pertiga keluarga besarnya kembali menggunakan bahasa arab fusha. Bahasa Al Quran.
 
Kesadaran apakah yang kemudian menjadi titik balik Amera menggunakan bahasa Arab Fusha?
 
lilhaditsi baqiyah 🙂
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Upaya Kembali

“Taqi, berapa lama lagi?” Entah sudah berapa kali pertanyaan bernada protes itu terlontar dari teman kos saya. Protes ini terjadi setiap saya melakukan ritual “panggilan alam” sambil membawa serta apapun yang bisa saya baca.
 
Ritual ini mungkin terjadi karena gengguk caen reng madure. Saya tidak ingat kapan pastinya hal itu bermula. Seingat saya sih daya “lahap” saya terhadap segala sesuatu yang tertulis meningkat, sejak gedung DPR RI berbuahkan manusia dengan beragam warnanya. Yah, Demo Mahasiswa yang menuntut rezim waktu itu turun. Sejak itu saya jadi rajin menemani Aba membaca koran langganannya. Kegandrungan “melahap” tidak hanya asik dilakukan di kamar. Kemudian sedang membuang mutan juga berlaku ritual tersebut.
 
Ritual ini pun kemudian Ummi ketahui. Hingga sempat beliau juga murka karena mendapati jendela kamar mandi kami ada tumpukan koran, majalah dan buku. Bukan karena saya suka “lahap”nya sih murkanya. Namun, beliau menyayangkan saya melakukannya di tempat yang tidak layak. Murka beliau berlipat saat mengetahui salah satu majalah yang ada ditumpukan itu terdapat lafdzul jalalah. Saya jera tidak meninggalkan bacaan di kamar mandi. Namun, ritual itu tidak sepenuhnya bisa saya hilangkan.
 
Hingga ketika Allah taqdirkan saya mencari cahayaNya di Malang, ritual tersebut kebawa. Protes kemudian sesekali menjadi sarapan pagi dan makanan sore saya.
 
Apakah sekarang saya sudah tobat? Tentu saja jawabannya belum. Bahkan mungkin lebih “gila”. Dulu kertas yang ada tulisannya yang saya “lahap”, sekarang seringnya layar hp yang dipelototin, berselancar mengumpulkan serakan inspirasi.
 
“Mana ada inspirasi yang bening dan jernih dari jamban, Taq!” Bantah sinis teman flat terhadap dalih saya.
 
“Kalau hp yang dibawa, alamat dah sampai jamuran!” Sindirin indah lainnya.
 
Protes, sinis dan sindiran terhadap ritual tak terhormat saya itu berharmoni, meminta saya kembali ke jalan yang benar.
 
#Mengejajalanpulang
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Inspiring Ustadz

“Ulama terdahulu itu perkataannya sedikit namun kaya dengan faidah.” Nasehat dosen kami, mengutip pernyataan Ibn Rajab.

Nasehat tersebut terasa hidup menyertai cara beliau mengajari kami. Tidak banyak kata di luar materi yang terlontar. Bisa dibilang nyaris tidak ada, kecuali nasehat emas yang disarikannya dari kehidupan ulama terdahulu.

“Kapan ujian dan nilainya berapa?” Adalah pertanyaan yang sering kami lontarkan. Namun beliau hanya diam tidak ada satu katapun merespon tanya kami. “Sombong sekali!” Sempat kami ngedumel atas respon dingin beliau.

Namun semakin ke sini kami mengerti, bahwa ilmu tidak akan pernah menemukan padanannya dalam bentuk angka, seberapapun besar angka tersebut. Beliau mengubah cara pandang kami yang sebelum berlomba bagaimana mendapatkan nilai yang bagus, menjadi bagaimana ilmu itu menjadi cahaya yang menggerakkan kami.

Kami menggelari beliau “Ensiklopedi Penelitian Hidup”. Kiranya gelaran ini tidak berlebihan mengingat beliau adalah satu-satunya tempat kami bertanya, tentang tema-tema penelitian yang akan kami pilih. Tidak satupun pertanyaan kami tidak memiliki jawaban. Beliau dengan detail menjawab apakah tema tersebut belum atau sudah diteliti. Jika sudah diteliti beliau beri tahu kami, siapa yang meneliti dengan menyebut tahun dan nama perguruan tinggi atau lembaga penelitiannya. Tidak cukup sampai disitu, beliau juga akan sebutkan di mana kami bisa mengaksesnya. Apakah di perpustakaan kampus kami tersedia atau tidak.

MasyaAllah Tabarakallah.Kata itulah yang sering terdengar sepanjang ulasan beliau. Dosen yang langka. Beliau update banget dengan dunia penelitian.

Beliau dalam pandangan dhoif kami adalah sosok yang berhasil menginternalkan idealisme dalam realitas kehidupannya. Tidak heran jika kemudian keberadaan beliau menjadi inspirasi yang tiada tepi. Menginisiasi perubahan pradigma yang selama ini menjumudkan cara pikir, sikap dan laku kami.

“Semoga Allah sukseskan kalian di dunia dan di akhirat!” Doa yang dipanjatkannya untuk kami, mengakhiri majelis ilmu yang diampunya semester ini.

#Mengejajalanpulang

Dipublikasi di Caring, Dunia Eja | Meninggalkan komentar

Belajar dari Ujian

Masa ujian seperti ini selalu mengingatkan saya pada Mira. Mahasiswi Kedokteran Universitas Brawijaya. Teman kos Mbak Pithut, Mbak Ari & Dhita, saudari2 fillah saya saat di Malang. Setiap saya nyambangi mereka, saya selalu disuguhi dengan ketekunan Mira mengulang mata kuliahnya.
 
“Andai saya bisa setekun dia, pasti Allah beri saya kemudahan menjawab setiap pertanyaan di lembar soal ujian” Pengandaian ini selalu terbersit setiap beberapa soal tidak saya temukan jawabannya dalam bayangan otak saya.
 
Hal ini terjadi karena ketekunan itu tidak mendarah dan mendaging dalam tradisi belajar saya. Tentu saja saya tidak menyalahkan lingkungan yang menumbuhkan saya. Justru di sini rupanya ujian sebenarnya.
 
Ummi -Allah yarhamuha- sebagai guru pertama bagi saya. Beliau tidak pernah menuntut saya berprestasi dalam akademik. Karena bagi beliau prestasi dalam pandangan Allah itu yang harus diraih.
 
“Jangan nakal & takutlah Allah!” Dua pinta itulah yang tidak pernah absen terucap dari lisannya. Pinta yang sederhana, namun tidak sederhana dalam manifestasinya. Jauh lebih berat dari mengubah kebiasaan saya yang nyaris tidak tekun menjadi tekun dalam belajar. Karena pinta Ummi tersebut tidak hanya sesaat ketika saya belajar di lembaga formal. Namun itu menjadi wasiat yang harus saya upayakan terwujud dalam denyut kehidupan saya.
 
Wasiat itu selalu menjadi penetralisir yang ampuh, setiap ‘kecewa’ mengusik diri saya atas hasil ujian yang tidak memuaskan, dikarenakan upaya ‘tekun’ saya yang masih setengah hati.
 
Selain ketekunan Mira yang belum bisa saya duplikasi. Ada juga kesungguhan Rima yang belum jua saya dapat replika dalam ‘memori’ tradisi belajar saya. Rima ini teman saya di asrama di Makkah. Gadis Taif. Mahasiswi Geografi di Umm Al Qura University. Kesungguhan belajar dengan ‘sistem kebut semalamnya’ belum ada yang bisa menandingi. Bukan berarti dia hanya belajar saat mau ujian aja sih, tiap hari dia belajar, namun tidak sekenceng malam-malam ujian.
 
Setiap ujian selalu dramatis. Bergelas-gelas kopi menjadi teman belajarnya. Berurai air mata juga mengiringi aksi belajarnya, mungkin saat jenuh mulai menggayuti kesungguhannya. Tidak jarang 3-4 kali mandi dalam semalam, demi mengusir kantuk dan bosannya.
 
Setiap kamar akan bergantian ia singgahi, mungkin untuk mendapati suasana yang baru. Sempat tanpa sadar saya kunci dia, saat dia menyinggahi kamar saya. Sesampai saya di kampus baru ingat kalau di kamar ada Rima belajar. Segera saya telpon musyrifah. Setelah dibuka dengan kunci duplikat musyrifah ternyata dia sedang tidur pulas.
 
Rupanya dia bisa tidur juga. Betik hati saya sambil bersyukur, karena Allah tidak biarkan ‘sesal’ merundungi saya. Kalau misal hari itu dia punya jadwal ujian, saya bakal didemo anak2 seasrama, karena menguncinya di dalam kamar. Alhamdulillah.
 
Itu kelakuan unik Rima dalam menghadapi ujian. Saya belum sanggup menirunya. Namun begitu nasehat singkat Aba:”Jangan lupa ngaji Al Quran!” selalu menjadi penghibur bagi ketidakmampuan saya. Menjalankan nasehatnya itu selalu meninggalkan ‘nyes’ yang tidak terkatakan.
 
Hari-hari ke depan saya ujian. Ketekunan Mira dan kesungguhan Rima kembali mengemuka dalam ingatan saya. Allah yadzkuruhuma bil khair. Serta wasiat emas Ummi -Allah Yarhamuha- dan nasehat Aba -Allah Yahfadhuhu- semoga Allah bimbing dan menguatkan saya dalam mewujudkannya, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari nafas hidup saya. Amiin.
 
#MengejaJalanPulang
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Piknik

“Piknik saya itu menyelam, Taq” Canda seorang Ustadzah kepada saya.

“Menghilangkan kebosanan dalam berinteraksi dengan teks itu cukup dengan pergi ke haram, cuci mata di perpustakaan, toko buku, atau menziarahi pameran buku. Itu ritual diving saya, Taq.” Jelas beliau kemudian.

Sebuah ritual unik. Ternyata memang nyata terbukti. Pergi ke Haram semua juga akan merasakan kenyamanan dan ketenangan yang tidak terkatakan.

Acara ritual cuci mata inilah yang belum sepenuhnya saya yakin dapat mengusir bosan. Setelah nyaris beberapa bulan Allah taqdirkan saya berinteraksi intens dengan teks. Hingga sesekali lupa kalau bantal memanggil diri ini merebah sejenak. Puncaknya bosan menjadi terasa akut membebani tengkuk.

Sepekan ini Allah hadirkan kesempatan piknik dengan dihelatnya pameran buku di Jeddah. Wah kesempatan saya merasakan sensasi ritual unik Ustadzah saya itu. Girang meliputi bahagia saya. Namun nyaris kecewa dan gigit jari mengisi ruang sesal saya. Karena beberapa tugas yang tidak tampak akan selesai. Kemudian kabar perpanjangan deadline membungakan optimis saya.

Hingga sabtu pagi, Allah gerakkan bos-bos cantik nan gagah berkenan menemani saya. Melihat dompet sih sepertinya hanya cukup untuk satu buku yang dapat saya buru.

Sesampainya di arena pameran, ada nyeri yang mengabarkan perih. Buku-buku itu hanya dapat saya pandangi tidak dapat terbeli. Namun dibalik perih yang ada, ada bongkahan penat yang mencair. Lapang yang kemudian meluasi ruang jenak saya, perih menjadi nyaris terlupa.

Sebagai bonus dari piknik ini, Allah hadiahi saya kesempatan untuk menyiapkan bahan ‘camilan’ untuk liburan nanti. Berupa alat selam, untuk menenggalamkan diri ini di lautan luas ilmuNya.

Selain itu Allah hadiahi kami kesempatan bertemu dengan sopir taxi yang baik. Tiada henti nasehatnya menyertai perjalanan kami sepanjang jalan Abhur Syimaliyah sampai terminal saptco.

Benar nyata adanya ritual unik Ustadzah saya itu. Bosan menjadi hengkang. Rasa menjadi plong, pikir menjadi lebih jernih, dan langkah menjadi ringan. Walillahil hamd.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar