Inspiring Ustadz

“Ulama terdahulu itu perkataannya sedikit namun kaya dengan faidah.” Nasehat dosen kami, mengutip pernyataan Ibn Rajab.

Nasehat tersebut terasa hidup menyertai cara beliau mengajari kami. Tidak banyak kata di luar materi yang terlontar. Bisa dibilang nyaris tidak ada, kecuali nasehat emas yang disarikannya dari kehidupan ulama terdahulu.

“Kapan ujian dan nilainya berapa?” Adalah pertanyaan yang sering kami lontarkan. Namun beliau hanya diam tidak ada satu katapun merespon tanya kami. “Sombong sekali!” Sempat kami ngedumel atas respon dingin beliau.

Namun semakin ke sini kami mengerti, bahwa ilmu tidak akan pernah menemukan padanannya dalam bentuk angka, seberapapun besar angka tersebut. Beliau mengubah cara pandang kami yang sebelum berlomba bagaimana mendapatkan nilai yang bagus, menjadi bagaimana ilmu itu menjadi cahaya yang menggerakkan kami.

Kami menggelari beliau “Ensiklopedi Penelitian Hidup”. Kiranya gelaran ini tidak berlebihan mengingat beliau adalah satu-satunya tempat kami bertanya, tentang tema-tema penelitian yang akan kami pilih. Tidak satupun pertanyaan kami tidak memiliki jawaban. Beliau dengan detail menjawab apakah tema tersebut belum atau sudah diteliti. Jika sudah diteliti beliau beri tahu kami, siapa yang meneliti dengan menyebut tahun dan nama perguruan tinggi atau lembaga penelitiannya. Tidak cukup sampai disitu, beliau juga akan sebutkan di mana kami bisa mengaksesnya. Apakah di perpustakaan kampus kami tersedia atau tidak.

MasyaAllah Tabarakallah.Kata itulah yang sering terdengar sepanjang ulasan beliau. Dosen yang langka. Beliau update banget dengan dunia penelitian.

Beliau dalam pandangan dhoif kami adalah sosok yang berhasil menginternalkan idealisme dalam realitas kehidupannya. Tidak heran jika kemudian keberadaan beliau menjadi inspirasi yang tiada tepi. Menginisiasi perubahan pradigma yang selama ini menjumudkan cara pikir, sikap dan laku kami.

“Semoga Allah sukseskan kalian di dunia dan di akhirat!” Doa yang dipanjatkannya untuk kami, mengakhiri majelis ilmu yang diampunya semester ini.

#Mengejajalanpulang

Iklan
Dipublikasi di Caring, Dunia Eja | Meninggalkan komentar

Belajar dari Ujian

Masa ujian seperti ini selalu mengingatkan saya pada Mira. Mahasiswi Kedokteran Universitas Brawijaya. Teman kos Mbak Pithut, Mbak Ari & Dhita, saudari2 fillah saya saat di Malang. Setiap saya nyambangi mereka, saya selalu disuguhi dengan ketekunan Mira mengulang mata kuliahnya.
 
“Andai saya bisa setekun dia, pasti Allah beri saya kemudahan menjawab setiap pertanyaan di lembar soal ujian” Pengandaian ini selalu terbersit setiap beberapa soal tidak saya temukan jawabannya dalam bayangan otak saya.
 
Hal ini terjadi karena ketekunan itu tidak mendarah dan mendaging dalam tradisi belajar saya. Tentu saja saya tidak menyalahkan lingkungan yang menumbuhkan saya. Justru di sini rupanya ujian sebenarnya.
 
Ummi -Allah yarhamuha- sebagai guru pertama bagi saya. Beliau tidak pernah menuntut saya berprestasi dalam akademik. Karena bagi beliau prestasi dalam pandangan Allah itu yang harus diraih.
 
“Jangan nakal & takutlah Allah!” Dua pinta itulah yang tidak pernah absen terucap dari lisannya. Pinta yang sederhana, namun tidak sederhana dalam manifestasinya. Jauh lebih berat dari mengubah kebiasaan saya yang nyaris tidak tekun menjadi tekun dalam belajar. Karena pinta Ummi tersebut tidak hanya sesaat ketika saya belajar di lembaga formal. Namun itu menjadi wasiat yang harus saya upayakan terwujud dalam denyut kehidupan saya.
 
Wasiat itu selalu menjadi penetralisir yang ampuh, setiap ‘kecewa’ mengusik diri saya atas hasil ujian yang tidak memuaskan, dikarenakan upaya ‘tekun’ saya yang masih setengah hati.
 
Selain ketekunan Mira yang belum bisa saya duplikasi. Ada juga kesungguhan Rima yang belum jua saya dapat replika dalam ‘memori’ tradisi belajar saya. Rima ini teman saya di asrama di Makkah. Gadis Taif. Mahasiswi Geografi di Umm Al Qura University. Kesungguhan belajar dengan ‘sistem kebut semalamnya’ belum ada yang bisa menandingi. Bukan berarti dia hanya belajar saat mau ujian aja sih, tiap hari dia belajar, namun tidak sekenceng malam-malam ujian.
 
Setiap ujian selalu dramatis. Bergelas-gelas kopi menjadi teman belajarnya. Berurai air mata juga mengiringi aksi belajarnya, mungkin saat jenuh mulai menggayuti kesungguhannya. Tidak jarang 3-4 kali mandi dalam semalam, demi mengusir kantuk dan bosannya.
 
Setiap kamar akan bergantian ia singgahi, mungkin untuk mendapati suasana yang baru. Sempat tanpa sadar saya kunci dia, saat dia menyinggahi kamar saya. Sesampai saya di kampus baru ingat kalau di kamar ada Rima belajar. Segera saya telpon musyrifah. Setelah dibuka dengan kunci duplikat musyrifah ternyata dia sedang tidur pulas.
 
Rupanya dia bisa tidur juga. Betik hati saya sambil bersyukur, karena Allah tidak biarkan ‘sesal’ merundungi saya. Kalau misal hari itu dia punya jadwal ujian, saya bakal didemo anak2 seasrama, karena menguncinya di dalam kamar. Alhamdulillah.
 
Itu kelakuan unik Rima dalam menghadapi ujian. Saya belum sanggup menirunya. Namun begitu nasehat singkat Aba:”Jangan lupa ngaji Al Quran!” selalu menjadi penghibur bagi ketidakmampuan saya. Menjalankan nasehatnya itu selalu meninggalkan ‘nyes’ yang tidak terkatakan.
 
Hari-hari ke depan saya ujian. Ketekunan Mira dan kesungguhan Rima kembali mengemuka dalam ingatan saya. Allah yadzkuruhuma bil khair. Serta wasiat emas Ummi -Allah Yarhamuha- dan nasehat Aba -Allah Yahfadhuhu- semoga Allah bimbing dan menguatkan saya dalam mewujudkannya, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari nafas hidup saya. Amiin.
 
#MengejaJalanPulang
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Piknik

“Piknik saya itu menyelam, Taq” Canda seorang Ustadzah kepada saya.

“Menghilangkan kebosanan dalam berinteraksi dengan teks itu cukup dengan pergi ke haram, cuci mata di perpustakaan, toko buku, atau menziarahi pameran buku. Itu ritual diving saya, Taq.” Jelas beliau kemudian.

Sebuah ritual unik. Ternyata memang nyata terbukti. Pergi ke Haram semua juga akan merasakan kenyamanan dan ketenangan yang tidak terkatakan.

Acara ritual cuci mata inilah yang belum sepenuhnya saya yakin dapat mengusir bosan. Setelah nyaris beberapa bulan Allah taqdirkan saya berinteraksi intens dengan teks. Hingga sesekali lupa kalau bantal memanggil diri ini merebah sejenak. Puncaknya bosan menjadi terasa akut membebani tengkuk.

Sepekan ini Allah hadirkan kesempatan piknik dengan dihelatnya pameran buku di Jeddah. Wah kesempatan saya merasakan sensasi ritual unik Ustadzah saya itu. Girang meliputi bahagia saya. Namun nyaris kecewa dan gigit jari mengisi ruang sesal saya. Karena beberapa tugas yang tidak tampak akan selesai. Kemudian kabar perpanjangan deadline membungakan optimis saya.

Hingga sabtu pagi, Allah gerakkan bos-bos cantik nan gagah berkenan menemani saya. Melihat dompet sih sepertinya hanya cukup untuk satu buku yang dapat saya buru.

Sesampainya di arena pameran, ada nyeri yang mengabarkan perih. Buku-buku itu hanya dapat saya pandangi tidak dapat terbeli. Namun dibalik perih yang ada, ada bongkahan penat yang mencair. Lapang yang kemudian meluasi ruang jenak saya, perih menjadi nyaris terlupa.

Sebagai bonus dari piknik ini, Allah hadiahi saya kesempatan untuk menyiapkan bahan ‘camilan’ untuk liburan nanti. Berupa alat selam, untuk menenggalamkan diri ini di lautan luas ilmuNya.

Selain itu Allah hadiahi kami kesempatan bertemu dengan sopir taxi yang baik. Tiada henti nasehatnya menyertai perjalanan kami sepanjang jalan Abhur Syimaliyah sampai terminal saptco.

Benar nyata adanya ritual unik Ustadzah saya itu. Bosan menjadi hengkang. Rasa menjadi plong, pikir menjadi lebih jernih, dan langkah menjadi ringan. Walillahil hamd.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Spirit 212

Pekan lalu saya mengikuti #AksiSuperDamai212 melalui live streaming media center GNPF-MUI. Sebuah kesempatan yang sangat berharga. Walau fisik saya tidak hadir bersama lautan ukhuwah yang terjalin di sana, aliran ruhnya sampai di sini, melekat dan masih terasa denyutnya.

#AksiSuperDamai212 yang dahsyat. Betapa Al Quran telah benar-benar menjadi alasan bagi jutaan umat bergerak dalam satu visi yang sama. Menyuarakan kebenaran dan menuntut penegakan keadilan.

“Al Quran itu menggerakkan, Taq! Jangan terkejut jika nanti Al Quran akan menjadi alasan Indonesia menemukan jati dirinya.” Prediksi salah seorang Ibu ideologis saya, saat beliau Umroh tahun lalu.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Ibu itu Cinta

Berapi beliau menyampaikan kuliah “Kritik Hukum” dengan logat arab Mesir yang medok banget. Berbeda dengan dua pekan sebelumnya yang nyaris tidak bisa melawan kantuk. Hari ini energi saya full dan fokus menyimak paparannya. Perbandingan Hukum Perundangan Negara dengan Syari’ah Islamiyah yang universal, berhasil menumbuhkan bahkan menyuburkan keyakinan kami akan indahnya Islam.

Tiga puluh menit beliau menjelaskan, HPnya berdering. Tidak biasanya beliau membawa serta HPnya ke dalam kelas, kalau pun dibawa jika ada panggilan dapat dipastikan beliau akan merejectnya. Setelah izin untuk mengangkatnya, beliau keluar kelas.

“Khair, InsyaAllah ya Dukturah!” Sapa Munerah saat beliau kembali masuk.

“Khair, Alhamdulillah!” Jawabnya dengan burat mendung menyelimuti wajahnya.

“Aanti maridhoh ya Dukturah?” Layla bertanya memastikan tidak ada apa-apa.

“Tuwuffiyat Ummi ya Banaat, id.u laha!” Tangisnya pecah.

Spontan kami bergantian menyalami beliau, memeluknya. Air mata ini tidak terbendung berjatuhan. Mengingatkan saya pada suasana kurang lebih tiga tahun yang lalu, jenak dimana Aba mengabari saya bahwa Ummi telah kembali kepada Allah. Sebuah suasana yang sama dialami Dukturah Fathiyah saat ini. Beliau tidak membersamai detik terakhir Umminya. Beliau di Makkah, Umminya di Mesir. Rahimahallah rahmatan wasi’ah.

Otomatis kuliah terhenti.

“Ibu itu cinta yang sebenarnya cinta!” Gumam Amena

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

#SDM: Lelaki Langka

Kisah ini tentang suami teman saya. Sebut saja ia bernama Ahmad dan teman saya bernama Asma. Pasangan suami istri ini sama-sama pelajar di Umm Al Qura University. Ahmad dan Asma pasangan yang biasa sebagaimana pasutri lainnya. Namun ada yang tidak biasa, dalam hal ini bagaimana Ahmad memperlakukan keluarganya. Tidak seperti kebanyakan para suami yang cenderung dilayani semua kebutuhannya. Ahmad menjadi suami yang melayani nyaris seluruh kebutuhan keluarga kecilnya.
Asma dan Ahmad dipertemukan Allah melalui kesepakatan dua keluarga untuk menyatukan mereka dalam sebuah pernikahan. Atas nama kepatuhan terhadap orang tua Asma menerima dan menjalani taqdirnya. Cinta tidak pernah sekalipun terasa tumbuh dalam hatinya. Ahmad tidak pernah menggugatnya. Tidak sekalipun memaksanya untuk menyukainya. Tidak juga menuntutnya untuk melakukan kerja-kerja kerumahtanggaan.
Ahmad memperlakukan Asma sebagai ratu yang sesungguhnya dalam denyut keluarganya. Disamping belajar, memasak, mencuci baju, membersihkan rumah, dan belanja Ahmad mengaambil alih seluruh pekerjaan rumah. Tugas Asma mengeja ilmu. Membaca dan menyelesaikan tugas kuliahnya.
“Agama itu mu’amalah” demikian salah satu hadits Rasulullah Saw. yang kemudian membuka hati Asma untuk mengupayakan cinta -kepada suaminya- itu menumbuhi kelapangan hatinya. Hadits tersebut menjadi sangat mewakili bagaimana suaminya memperlakukan dirinya.
Setelah tiga tahun usia pernikahannya, Allah menganugerahi keluarga pecinta ilmu ini seorang anak. Lagi-lagi yang mengurus dan memenuhi kebutuhan anak mereka masih tanggung jawab dan tugas Ahmad, kecuali menyusui adalah tugas yang tidak bisa tergantikan.
Yang tidak kalah anehnya adalah ketika sang buah hati mereka berusia dua tahun, Asma dan Ahmad memutuskan untuk berpisah sementara. Asma di Asrama kampus, suami dan anaknya di apartemen mereka. Keputusan ini diambil agar Asma bisa lebih berkonsentrasi dalam belajarnya. Setiap akhir pekan Ahmad menjemputnya sambil tidak pernah absen membawa untuk teman-teman Asma makanan yang dimasaknya sendiri.
Begitulah Ahmad memperlakukan Asma. Menanam benih cintanya dengan budi pekerti. Interaksi yang menggugah ini tidak pernah bernada menggugat. Justru membuahkan hasil yang tidak sia-sia. Dapat menarik simpati Asma tanpa retorika. Perlahan menggerakkannya untuk ikut serta dalam menumbuhkembangkan keluarga kecilnya.
Makkah, 27121436
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Kemesraan Ini

Huruf demi hurufnya memendarkan cahaya. Memoranda kerak yang sudah lama menghuni dadanya. Galau menepi, lalai hengkang, bosan menjarakinya. Perlahan tumbuh cinta yang tidak biasa. Syukur terwujud dalam kerja. Sabar berharmoni dengan upaya.

“Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu!”Sebaris lagu ini menjadi sangat tepat dengan kondisinya. Ada kemesraan yang tidak pernah ia ingin kembali menjauhinya.

Allah beri kesempatan untuk selalu membersamainya. Interaksi menjadi sangat rekat. Akal, hati dan keseluruhan sistem organnya bersatu padu. Menjadi barisan ‪#‎ParaPerinduSurga‬.

“Semua proyek di dunia ini akan mengalami kegagalan, kecuali proyek mengeja, membaca, memahami, menghafal dan mengamalkan Al Quran. Ia tidak akan pernah mengenal kata gagal. Satu ayat saja yang kau eja, baca, pahami, hafal dan amalkan akan mencahayai dadamu!” Begitu Ablah Kulthum memotivasinya.

Adakah kemesraan yang lebih romantis daripada bersama Al Quran?

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar