Refleksi

Ketika baper dan galau melanda semesta kita. Baper berseliweran mengganggu katalisasi rasa. Galau bertebaran menghambat anabolisasi kata. Saatnya hempaskan baper dan hengkangkan galau kita. Agar ‘dewasa’ mengemuka menjadi pilihan bagi setiap rasa, kata dan cita kita.

Baris kalimat tersebut di atas sama sekali bukan ungkapan kekesalan. Namun bentuk keprihatinan yang sedang terjadi  di sekitar saya. Melanda seorang teman yang sedang Allah beri ujian untuk mengumpulkan pahala dengan menguatkan kesabaran. Menjalani hidup berjauhan dengan sepotong hatinya, sebut saja suaminya.

Emosinya seringkali tidak terkontrol, sehingga banyak sekali jenaknya terlewati hanya untuk menernak berbagai kemungkinan. Tersingkirlah sekian kewajiban membaca dan memahami diktat kuliah, menulis makalah dan meresume referensi penting.

Siapalah saya dengan celoteh sok tahu saya? Mudah lisan melontarkan nasehat dan menghiburnya, namun saya tidak tahu apakah kemudian jika saya berada di posisinya bisa melewati ujian ini semudah nasehat yang terlontar? Tentu saja jawabannya saya tidak tahu.

“Silakan galau dan baper, tugasku saat ini mengisi ruangmu dengan tawa! Hingga jika Allah gilirkan aku mengalami apa yang sedang kau alami, kamu bisa berperan sebagaimana peranku saat ini.” Entah celoteh saya ini menghibur atau bahkan menyakitkannya, saya tidak tahu. Itulah yang sementara saya bisa lakukan.

Kalau bisa saya katakan ini semacam refleksi. Sebuah pembelajaran mahal yang Allah berikan secara gratis di hadapan saya. Agar saya dapat menyerapnya dengan sebaik-baiknya. Kalaupun nantinya Allah tidak menaqdirkan saya melewati suasana yang sama, ini tetap menjadi referensi bagi pendewasaan pilihan saya. Jikapun nantinya suasana yang sama ini Allah taqdirkan saya mengalaminya di tahun-tahun yang akan datang, semoga ini menjadi modal berharga saya dalam menemukan solusi tepat, semoga hidayah Allah meliputi pilihan yang akan saya ambil, hingga Allah taqdirkan saya bisa melewatinya dengan baik, insyaAllah.

 

 

Iklan

Tentang TaQ

Hanya manusia biasa yang ingin terbiasa menjadi hamba Allah. Ingin terbiasa di jalan menuju RidhoNya dan berhasil mendapat jatah sebagai penghuni surgaNya.
Pos ini dipublikasikan di Caring. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s