Bayt Al Maqdes

Nama itu mengusik saya untuk kembali menelisiki diri saya, adakah diri saya mengakui kesuciannya? Seberapa besar peduli saya terhadapnya? Seberapa saya mencintainya? Nama itu tidak asing. Sejak kecil Allah taqdirkan saya akrab dengan nama tersebut. Setiap tanggal 27 Rajab Ayah saya membahas kitab Al Dardeer ‘Ala Qissah Al Mi’raj. Sebuah kitab yang membahas peristiwa dari A-Z peristiwa perjalanan malam Nabi Saw dari Masjid Al Haram ke Masjid Al Aqsha kemudian naik ke langit hingga ke Sidratil Muntaha.

Rutinitas tersebut seharusnya membekali saya pemahaman yang utuh dan matang, bagaimana saya memposisikan nama tersebut dalam kehidupan saya. Namun sangat disayangkan, hal tersebut selama ini kajian tersebut hanya sekedar rutinitas belaka. Ternyata belum mampu menyadarkan saya bahwa nama tersebut harus menjadi bagian dari aqidah saya. Harus menjadi bagian dari upaya juang hidup saya di dunia ini.

Allah kemudian menaqdirkan saya bertemu dengan sebuah tulisan yang menyadarkan itu semua. Tulisan yang diberi tajuk “Gaza tidak Membutuhkanmu!”. Ditulis oleh Santi Soekanto -semoga Allah menjaganya-, salah seorang dari 12 Relawan Indonesia yang menjadi tim Freedom Flotilla to Gaza yang membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza. Tulisan tersebut Allah taqdirkan mengubah cara pandang saya yang selama ini memandang ‘nama’ tersebut sekedar nama yang hanya cukup diketahui sebagai bagian dari sejarah Islam.  Menjadi idealisme baru, bahwa  Bait Al Maqdes merupakan bagian identitas saya sebagai seorang  muslim yang mengharuskan saya untuk menjadi bagian dari perjuangan pembebasannya, ketika saat ini negeri tersebut sedang dalam jajahan bangsa yang sama sekali tidak memilki hak atas negeri tersebut.

Tulisan tersebut juga menjadi wasilah saya mengenal  Sahabat Al Aqsha. Sebuah lembaga kemanusiaan yang didirikan oleh penulis dengan suaminya. Hingga tahun 2012 Allah taqdirkan saya berinteraksi dengan lembaga tersebut dalam sebuah program “Nobar Film Tears of Gaza”. Saat itu melalui FLP Saudi Arabia, untuk pertama kali Allah taqdirkan saya bermuamalah dengan inspiring pasutri –Allah yahfadhuhuma– ini, walau melalui interaksi jarak jauh, namun kesempatan tersebut berhasil menyuntikkan semangat untuk melakukan ‘sesuatu’ bagi pembebasan Masjid Al Aqsha dari penjajahan Israel.

Melalui tulisan tersebut, Allah mempersaudarakan saya dengan anak-anak ideologisnya yang juga keponakan kandung mereka. Hingga kemudian saya  memanggil pasutri ini dengan Ode Santi dan Paman Dzikru, sebagaimana mereka dipanggil oleh anak-anaknya. Tentu saja menjadi keponakan ideologis keduanya adalah anugerah yang harus saya syukuri. Semoga ridho Allah & surga menjadi muara ukhuwah ini.

Iklan

Tentang TaQ

Hanya manusia biasa yang ingin terbiasa menjadi hamba Allah. Ingin terbiasa di jalan menuju RidhoNya dan berhasil mendapat jatah sebagai penghuni surgaNya.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s