Inspiring Hafidzah

Amera namanya. Teman sekamar saya saat di asrama. Muslimah Mesir. Salah seorang Inspiring hafidzah yang Allah sempatkan saya menyerap langsung pendar cerlangnya.
 
Sejak dua belas tahun dalam usianya, Allah memuliakan otaknya bermemori keseluruhan Al Quran. Ibundanya yang tumbuh dari keluarga yang tidak peduli dengan pendidikan agama, Allah buka jalan hidayah baginya dengan tumbuhnya keinginan untuk mengganti pola jahili yang sedang memenuhi memori otaknya dengan Al Quran. Saat itu Amera masih balita. Itulah kemudian sunnatullah berlaku, seorang anak akan selalu mengikuti trend ibunya. Ibunya menghafal maka anaknya akan ikut menghafal. Hingga kemudian anak-ibu ini menjadi teman menghafal dan muraja’ah yang menyenangkan.
 
Amera selesai hafalannya, sang Ibu baru 10 juz berhasil dihafalnya. Apakah kemudian beliau berhenti? Tentu saja tidak. Selain karena tekadnya mengganti pola jahili yang sudah lama mengendapi memori otaknya dengan Al Quran, beliau juga ingin menemani tumbuh-kembang anak-anaknya -amera dan adikadiknya- dengan Al Quran. Maka beliaupun pantang menghentikan proyeknya, walau kemudian amera sudah berhasil bermemori Al Quran. Proyek itu pun terus bekerja membersamai tumbuh-kembang amera dan adik-adiknya.
 
Saat ini adik bungsunya sudah berusia 9 tahun dan telah berhasil menyelesaikan hafalannya. Bersama itu pula sang ibunda telah menyelesaikan qira’ah sab’ahnya.
 
Seorang yang memorinya Al Quran itu memiliki daya serap terhadap ilmu yang cepat, dibanding yang memori otaknya bukan Al Quran. Hal ini dapat saya lihat pada Amera dan keseluruhan keluarganya. Akselerasi hampir di semua jenjang pendidikannya. Usia 18 sudah selesaikan S1 kitab wa sunnah dari UQU.
 
Sejak kecil terbiasa dan menyukai membaca dan menulis. Tidak heran jika kemudian ia menjadi tempat terakhir sebagian besar kami wafidat saat itu, ketika kami deadlock untuk menyelesaikan tugas-tugas ta’bir. Sebuah kelemahan yang jamak dimiliki oleh para pemula dalam pembelajaran bahasa arab.
 
Ibunda Amera menjadi Ibu ideologis saya. Setiap hari Amera menelpon ibunya.Sesekali beliau menyapa saya. Menanyakan sudah makan siang, belajar dan detail aktifitas lainnya.
 
“Bersama Al Quran itu proyek sepanjang hidup, Taqoo!” Itu salah satu pesan beliau.
 
Amera saat ini telah berkeluarga. Allah karunia satu bidadari dan satu pangeran. Kami masih komunikasi melalui group WA yang berisikan teman-teman yang sempat satu asrama. Amera jarang online, karena ia tidak ingin anaknya melihatnya memegang hp. Dia pegang hp ketika anak-anaknya sudah pada tidur.
 
Anaknya yang paling tua saat ini berusia empat tahun. Sering protes kepadanya, setelah dia bertekad mengubah bahasa ‘ammiyahnya menjadi fusha. Tidak hanya protes, heran dan bengong menjadi ekspresi kebingungan anaknya melihat perubahan drastis Ibunya. Hal itu terjadi satu dua bulan awal perubahannya menggunakan bahasa fusha sebagai bahasa kesehariannya.
 
Hal tersebut bukan tanpa sebab. Justru karena kesadaran baru akan pentingnya bahasa Arab menjadi salah satu identitas keberislamannyalah, perubahan radikal itu diambilnya. Awalnya ia memulainya dengan suaminya setelah suaminya baru kemudian dengan anak-anaknya. Kini dia berhasil mengajak dua pertiga keluarga besarnya kembali menggunakan bahasa arab fusha. Bahasa Al Quran.
 
Kesadaran apakah yang kemudian menjadi titik balik Amera menggunakan bahasa Arab Fusha?
 
lilhaditsi baqiyah 🙂
Iklan

Tentang TaQ

Hanya manusia biasa yang ingin terbiasa menjadi hamba Allah. Ingin terbiasa di jalan menuju RidhoNya dan berhasil mendapat jatah sebagai penghuni surgaNya.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s