#SDM: Lelaki Langka

Kisah ini tentang suami teman saya. Sebut saja ia bernama Ahmad dan teman saya bernama Asma. Pasangan suami istri ini sama-sama pelajar di Umm Al Qura University. Ahmad dan Asma pasangan yang biasa sebagaimana pasutri lainnya. Namun ada yang tidak biasa, dalam hal ini bagaimana Ahmad memperlakukan keluarganya. Tidak seperti kebanyakan para suami yang cenderung dilayani semua kebutuhannya. Ahmad menjadi suami yang melayani nyaris seluruh kebutuhan keluarga kecilnya.
Asma dan Ahmad dipertemukan Allah melalui kesepakatan dua keluarga untuk menyatukan mereka dalam sebuah pernikahan. Atas nama kepatuhan terhadap orang tua Asma menerima dan menjalani taqdirnya. Cinta tidak pernah sekalipun terasa tumbuh dalam hatinya. Ahmad tidak pernah menggugatnya. Tidak sekalipun memaksanya untuk menyukainya. Tidak juga menuntutnya untuk melakukan kerja-kerja kerumahtanggaan.
Ahmad memperlakukan Asma sebagai ratu yang sesungguhnya dalam denyut keluarganya. Disamping belajar, memasak, mencuci baju, membersihkan rumah, dan belanja Ahmad mengaambil alih seluruh pekerjaan rumah. Tugas Asma mengeja ilmu. Membaca dan menyelesaikan tugas kuliahnya.
“Agama itu mu’amalah” demikian salah satu hadits Rasulullah Saw. yang kemudian membuka hati Asma untuk mengupayakan cinta -kepada suaminya- itu menumbuhi kelapangan hatinya. Hadits tersebut menjadi sangat mewakili bagaimana suaminya memperlakukan dirinya.
Setelah tiga tahun usia pernikahannya, Allah menganugerahi keluarga pecinta ilmu ini seorang anak. Lagi-lagi yang mengurus dan memenuhi kebutuhan anak mereka masih tanggung jawab dan tugas Ahmad, kecuali menyusui adalah tugas yang tidak bisa tergantikan.
Yang tidak kalah anehnya adalah ketika sang buah hati mereka berusia dua tahun, Asma dan Ahmad memutuskan untuk berpisah sementara. Asma di Asrama kampus, suami dan anaknya di apartemen mereka. Keputusan ini diambil agar Asma bisa lebih berkonsentrasi dalam belajarnya. Setiap akhir pekan Ahmad menjemputnya sambil tidak pernah absen membawa untuk teman-teman Asma makanan yang dimasaknya sendiri.
Begitulah Ahmad memperlakukan Asma. Menanam benih cintanya dengan budi pekerti. Interaksi yang menggugah ini tidak pernah bernada menggugat. Justru membuahkan hasil yang tidak sia-sia. Dapat menarik simpati Asma tanpa retorika. Perlahan menggerakkannya untuk ikut serta dalam menumbuhkembangkan keluarga kecilnya.
Makkah, 27121436
Iklan

Tentang TaQ

Hanya manusia biasa yang ingin terbiasa menjadi hamba Allah. Ingin terbiasa di jalan menuju RidhoNya dan berhasil mendapat jatah sebagai penghuni surgaNya.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s