Menikmati Lelah

Sabtu sore aku paksakan miqat umroh di tan’em. Ada ragu menggelayut di hatiku. Mengingat fisikku yang kerap ambruk beberapa pekan ini. Aku memaksa diriku kuat, karena ini awal ramadhan. Ya Hayyu Ya Qayyum terucap lirih dalam perjalananku. Keyakinanku itu mengalahkan raguku.
Setelah tolak dari Tan’em menuju Masjidil Haram. Allah kuatkan aku. Nyaris tidak ada rasa perih di tapak kakiku. Perih yang selama ini membuat jalanku terekam seperti pinguin. 
Sengaja tidak langsung thawaf. Tilawah, shalat maghrib, isya’ dan tarawih aku lalui dengan riang. Tidak ada pening dan pusing yang kerap menganggu. Apalagi tarawih petang itu syaikh Suraim & Syaikh Sudays bergantian menjadi imam. Aksen tilawah Syaikh Suraim yang mendayu dan menghanyutkan. Sungguh menerbangkan alam sadarku pada detail pola dan pilihan muttaqin, munafiqin dan muslimin. Begitu juga dengan aksen tilawah Syaikh Sudays. Menghentak lalai yang selama ini abai terhadap kalamNya. Menusuk relung hati yang penuh dzan dan ragu. Allah yahfazhuhuma.
Hampir sekujur tubuh terasa ringan. Setelah mengganjal perut dengan to’miyah dan beberapa gelas air zamzam, bismillah thawaf aku mulai. Pada putaran keempat tapak kaki mulai terasa panas. Alarm tubuh mengingatkan langkahku. Memelankan langkah adalah pilihan yang harus kupatuhi. Agar batteraiku cukup hingga umroh usai. Karena jam 12.30 dini hari baru selesai thawaf, aku paksa tubuh untuk istirah sebentar. Rencana sebentar menjadi tiga jam. Rupanya benarbenar lelah. Rencana sa’i harus aku tunda setelah subuh. 
Karena panggilan alam memintaku ke toilet. Sekalian mencari makanan sahur. Setelah sahur dengan tiga biji kurma, segelas juz buah dan dua gelas zamzam. Aku kembali ke salah satu musholla nisa’ di pintu Malik Abdul Aziz. Baru dua kali qiyam, adzan subuh berkumandang.
Selepas shalat subuh tubuh ini belum bersahabat. Masih terasa letihnya. Entah letih dari apa. Mungkin karena imunitasnya yang berkurang atau apa? Sungguh aku belum mengerti apa penyebabnya. Kalau dikatakan karena beban berat yang aku bawa, aku hanya bawa dompet. Tas ranselku sementara aku istirahatkan di rumah. Atau memang mungkin tubuh ini mendekati masanya. Mengingat hal ini, jadi ingat pesan seorang guruku: “Kita semua akan pergi meninggalkan bumi ini. Kalau bukan perbaikan dan perubahan yang lebih baik yang kita lakukan, lalu bekal apa yang akan melayakkan kita menjadi barisan hamba Allah yang muhsinin, mukhlisin, dan muttaqin?” Nasehat itu menguatkan batterai tubuhku yang mulai melemah.
Setelah dua jam memanjakan tubuhku dengan berbaring dan lelap dalam mimpi yang entah. Aku bangkit, menuju mas’a. Sempat terpikir mau sewa scooter. Tapi melihat antriannya yang panjang. Aku urungkan. Gaya jalan pinguin jadi pilihan tubuhku. Pelan. Menyusuri sofa dan marwah dengan lisan yang berdzikir dan tubuh yang mulai lemah. Aku masih gagal menjadi Hajar yang perkasa. Namun melalui harapan Allah menggairahkan hidupku. Semoga menjadi umroh maqbulah. 
#DailyOfRamadhan

Iklan

Tentang TaQ

Hanya manusia biasa yang ingin terbiasa menjadi hamba Allah. Ingin terbiasa di jalan menuju RidhoNya dan berhasil mendapat jatah sebagai penghuni surgaNya.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s