Secarik Jenak dari Negeri Wahyu

Bapak Presiden SBY yang disayang Allah.

 

Perkenalkan, Ayah menghadiahi saya nama Taqiyyah M. Shams el ‘Arifin. Teman dan keluarga saya di Indonesia suka memanggil saya dengan Taqi. Berbeda dengan teman saya di Makkah yang sangat suka sekali memanggil saya dengan sebutan Taqoo. Sebuah nama dan panggilan yang ingin selalu saya sadari sebagai doa. Karena saya harus mengakui  -sebagai manusia- ‘lalai’ yang terkadang mendominasi kesadaran saya, menjadikan nama dan panggilan itu terkadang sekedar nama dan panggilan, hingga kesempatan untuk mengamini setiap nama saya disebut, terlewatkan begitu saja.

 

Di sini, di Negeri Wahyu ini, Allah mempertemukan saya dengan orangorang yang menjadikan keseluruhan waktunya hanya untuk Allah semata. Awalnya saya serasa bermimpi di siang bolong. Saya tidak percaya makhluk langka itu ada dan saya temukan di zaman yang kian hedonis. Sekalipun kalau saya tidak menemukan mereka misalnya, terngiang jelas dalam benak saya kebanggaan seorang teman dari Rusia. Dia berkata: “Kesadaranmu harus selalu dalam keadaan hidup, bahwa saat ini kita berada di tengah masyarakat yang memiliki nama belakang el Harithi, el Khudaly, el Quraisyi, el Qahthany, el Harby, el Qarny dan banyak lagi. Bukankah itu nama nama belakang umat terbaik yang pernah ada di permukaan bumi? Mereka adalah sahabat sahabat Nabi Muhammad Saw. Kesadaranmu yang selalu terjaga, akan membantumu merasa akrab dengan sosok terbaik itu. Hingga kita harus berketetapan hati menjadikan nama nama itu sebagai pengingat yang efektif untuk upaya kita ‘menjadi’ atau meneladani kehidupan mereka dalam keseharian kita.” Sebuah kebanggaan yang kemudian menjadi penyemangat berharga bagi saya untuk berupaya istiqomah dan berharap husnul khotimah.

 

Bapak Presiden SBY yang dikasihi Allah.

 

Kembali kepada kesempatan saya bertemu dengan makhluk langka itu. Mereka mengajarkan saya bahwa doa adalah senjata orang mukmin. Setiap doa yang terpanjat tidak akan pernah tersiakan. Karena selain sebagai alat komunikasi efektif seorang hamba dengan penciptaNya, juga akan menjadi tabungan pahala yang diharapkan akan menjadi bekal seorang hamba menghadapNya. Dari merekalah saya disadarkan bahwa doa harus menjadi bagian terpenting dalam kehidupan saya. Karena harapan akan rahmatNya memesat, mencintaiNya akan tumbuh subur, dan takut akan adzab Allah terpatri kuat, hingga dapat mendorong ‘upaya’  untuk menjalani perintahNya dan menjauhi laranganNya. Dari sinilah kemudian optimisme bersumber dan lahir dari keyakinan kita dalam merajut pinta kepada Allah. Pencipta dan Penentu bagi setiap detail kehidupan kita.

 

Merasa ada yang kurang jika wudhunya terputus karena perkara yang membatalkannya dan tidak diperbaharui. Begitu besar komitmen sebagian dari mereka untuk mengikuti kebiasaan Bilal bin Rabah Ra. yang Rasulullah beri kabar gembira bahwa suara bakiaknya terdengar melangkah di surga. Surga sebagai balasan bagi ketidakterputusan wudhu yang disertai dua rakaat untuk setiap wudhu yang diperbaharui. Pemandangan itu kerap menghiasi upaya mereka menjalankan komitmennya.

 

Merasakan hamparan sayap malaikat yang menjadi peneduh di setiap majelis ilmu yang mereka ikuti adalah momen yang selalu ditunggu dan dirinduinya. Menyadari doa dikabulkan di dalamnya adalah harapan yang selalu ingin dihidupkan dalam jenaknya. Sehingga doa untuk diri, keluarga, saudara, teman, dan umat muslimin seluruhnya senantiasa terajut genap dalam setiap majelis mubarak itu.

 

“Jangan lupa doa untuk negeri dan pemimpin negerimu!” Sebagian dari mereka selalu mengingatkan untuk tidak berhenti menyulam pinta.

 

Begitulah sebagian keberartian yang mereka bagi, menemani jenak saya di rantau. Semoga Allah memberi Bapak kesempatan untuk merasakan kesejukannya. Syukur syukur, jika kemudian Bapak berinisiatif mengadakan majelis majelis ilmu yang di dalamnya menjadi tempat untuk saling menasehati kebaikan dan kesabaran, sehingga iman kepada Allah menjadi senjata yang ampuh untuk tidak memberi ruang bagi hawa, nafsu ammarah bis su’, syaithan, fitnah dunia – harta, tahta & wanita – dan lingkungan yang tidak baik, mengusai dan mengalahkan kita.

 

Bapak Presiden SBY, semoga keberkahan senantiasa menyertaimu!

 

Mungkin saya salah satu rakyat Indonesia yang tidak cukup peka dengan kondisi Indonesia yang sebenarnya. Bahkan dapat dibilang saya tidak pernah merasakan pusing dengan sekian potret yang marak ditampilkan oleh orang orang penting di negeri ini. Kalau pusing karena keteledoran saya menjaga amanah sehat adalah pusing yang sering saya rasakan.

 

Tentang keprihatinan yang banyak diluapkan, tentang kekecewaan yang kerap diproteskan, tentang kepedihan yang terdengar dikeluhkan, tentang kesenjangan yang senantiasa dipertentangkan dan tentang kesalahan yang selalu dilemparkan. Boleh jadi saya muak dengan semua ketidaknyamanan yang mengemuka. Tapi apakah dengan ‘muak’ kemudian masalah yang di’tentang’kan bisa menemukan solusinya???

 

“Masalah yang datang dan pergi menyapa kita silih berganti itu adalah akibat perbuatan kita! Masalah yang menumpuk dan tidak segera dicarikan solusi untuk diselesaikan, maka tunggulah ledakan bom waktu yang akan membunuh produktifitas, kesuksesan dan kebahagiaanmu! Segera temukan solusinya, dengan mengakrabi Al Quran dan Sunnah Nabimu!” Tegas seorang guru, setiap saya mengeluhkan masalah yang menghampiri beranda jenak saya.

 

“Amal soleh, doa dan optimis adalah kekayaan kita hari ini!” Hibur salah seorang makhluk langka yang pernah saya temui, ketika kepedihan dan keputusasaan mengambil jatah lebih dan menyesakkan dada.

 

Demikian secarik jenak dari Negeri Wahyu, semoga dapat menggerakkan mesin ‘upaya’ istiqomah kita dan menyuburkan taman ‘harapan’ kita untuk husnul khotimah.

Iklan

Tentang TaQ

Hanya manusia biasa yang ingin terbiasa menjadi hamba Allah. Ingin terbiasa di jalan menuju RidhoNya dan berhasil mendapat jatah sebagai penghuni surgaNya.
Pos ini dipublikasikan di Dunia Eja, Dunia Hikmah. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Secarik Jenak dari Negeri Wahyu

  1. mauna berkata:

    aamiin…
    smoga alloh menunjuki kita dan mengarahkan hati dan langkah kita ke jalan-jalan yang baik…. aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s