Dialog Pagi

Matahari masih belum sepenuhnya bangun, namun subuh sudah kerasa mulai berdenyut dan menampakkan nafasnya. Sepagi itu pula suara bel rumah berdenting dari handphonenya terdengar. Tertulis nama seorang guru yang tidak pernah absen menyapa jumatnya dengan doadoanya yang terpanjat, harapanharapanya yang terajut indah. Lima detik kemudian jari tengahnya menekan gambar telephon berwarna hijau. Sejurus kemudian salam, tanya kabar dan tidak tertinggal doa juga terucap melengkapi sapaannya. Menjawab dengan singkat dan tidak terlalu banyak basa-basi adalah kebiasaan yang sementara ia bisa, mengingat belum banyaknya referensi basa-basi yang dimilikinya dalam bahasa Arab.

 

Mendengar keluhannya tentang pembantu yang mungkin membuatnya jengkel. Lagi lagi ia hanya baru bisa mendengarkannya, belum sepenuhnya bisa membantah atau mungkin mengalihkan keluhannya yang  ia sadari akan memberi pengaruh pada sistem kesadarannya. Walau demikian adanya, ia masih belum juga mendapatkan kata yang tepat untuk mengatakan bahwa ketidaknyamanan yang dirasakan atau mungkin juga dirasakan oleh semua manusia dalam kehidupannya, bermula dari dirinya. Bukankah sudah selayaknya mempertanyakan dirinya sebelum orang yang lain dikeluhkan? Seorang Ibrahim bin Adham saja mengatakan bahwa: kedekatannya dengan Allah bisa dilihat dari bagaimana hewan tunggangannya memperlakukan dirinya. Jika ada keanehan yang muncul keanehan dari hewan tunggangannya, tidak nurut, misalnya, maka Ibrahim bin Adham menilai kedekatannya dengan Allah berjarak.

 

Kisah itu jelas ia ingat, namun aksi diam atau mengiyakan untuk hal hal yang ia anggap benar, dan membiarkannya dengan keluhan panjangnya adalah sesuatu yang menyisakan kata ‘sesal’ dalam lumbung jenaknya. Mengapa saya belum sepenuhnya bisa mengatakan kata ‘tidak’ untuk sesuatu yang seharusnya saya mengatakannya? Pertanyaan yang kemudian menjadi catatan paginya. Semua ini bermula dari keengganannya untuk berbicara banyak dengan temanteman flatnya, sehingga referensi kata untuk berjalannya sebuah perbincangan dengan nyaman menjadi sangat sedikit dipunyainya.

 

Satu yang membuatnya urung larut dalam penyesalan paginya, adalah kata akhir dari keluhan gurunya tentang pembantunya tersebut. Beliau kemudian menutup keluhannya dengan mengatakan, “Tidak seharusnya saya mengeluh, bukankah ia juga manusia yang bisa jadi kedudukannya di sisi Allah lebih tinggi dari saya! Ma’alaisy akhodtu min waqtik, jazakillah khairal jaza’ ‘ala husnu somtik! Maaf, saya telah mengambil sebagian dari waktumu, semoga Allah membalas dengan sebaik-baik balasan atas diammu yang baik!” Untuk kesekian kalinya doa yang menyejukkan terpanjat. Mengamini doanya buruburu ia ucapkan untuk meringankan ‘sesal’ yang membebani. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Iklan

Tentang TaQ

Hanya manusia biasa yang ingin terbiasa menjadi hamba Allah. Ingin terbiasa di jalan menuju RidhoNya dan berhasil mendapat jatah sebagai penghuni surgaNya.
Pos ini dipublikasikan di Caring. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s