Niat untuk Jenak Kita

Terdengar pintu terketuk. Salam juga mengiringi. Kuletakkan kitab dan segera menuju pintu sambil membetikkan niat dalam hati: Kalau seorang yang membutuhkan bantuanku, semoga Allah beri aku kesempatan untuk membantunya. Jika seorang yang tersesat, semoga Allah beri aku kesempatan untuk menunjukkan jalan yang benar. Kalau seorang yang memerlukan tempat berteduh, semoga rumah kecil ini Allah jadikan tempat yang nyaman baginya. Jika seorang yang hendak menanyakan tentang syari’at Allah, semoga Allah beri aku Ilmu untuk membantunya menemukan jawaban dari pertanyaannya. Kalau seorang yang sedang bersedih, semoga Allah memberiku cara untuk menghiburnya. Jika seorang yang kesulitan dalam kehidupannya, semoga Allah memberiku energi untuk menjadi jalan kemudahan baginya. Kalau seorang yang sedang berselisih dengan saudaranya, semoga Allah menjadikanku cara bagi perdamaian keduanya. Jika seorang yang mencari tempat bagi curahan hatinya, semoga Allah memberiku kelapangan untuk menjadi pendengar yang baik dan dapat memberi solusi terbaik.
 
Sesampainya di balik pintu, kutarik daun pintu. Tampak wajah polos muridku. Ahmad.
“Saya datang hanya untuk bersalaman denganmu, Syaikh!” Setelah salam, Ahmad mengutarakan niat kedatangannya.
“Hanya itu?” Tanyaku.
Ahmad mengangguk sambil terlihat senyum tipis melengkung di bibirnya.
“Wahai muridku, perjalanan sekian meter dari rumahmu ke sini hanya untuk bersalaman denganku? Betapa kebaikan yang banyak telah kamu lewati dengan sengaja! Ketahuilah bahwa dari tempat aku duduk dan mendengar ketukanmu hingga membukakan pintu untukmu, aku meniatkan banyak hal kebaikan yang mungkin bisa aku lakukan. Bukankah kamu telah begitu paham bahwa niat kita untuk kebaikan akan berpahala? Kalau niat itu mewujud menjadi amal nyata akan mendapat pahala yang lain. Untuk itu jangan pernah lupa untuk meniatkan banyak hal kebaikan untuk setiap jenak kita. Kalaupun niat itu tidak menjadi amal nyata, pahala niat itu akan menjadi bagian dari bekal kita menuju negeri akhirat, insyaAllah!” Jelasku panjang lebar.
***
Sebuah kisah seorang ilmuwan Usul Fiqh bernama Aba Thahir Ad Dabbas. Kisah di atas diceritakan oleh Ustadzah Zainab el Fallaty ketika menjelaskan Kaidah Fiqh: Al Umuru bimaqasidiha. Semua perkara tergantung pada maksudnya. Sebuah Kaidah penting dalam memahami hukum hukum Fiqh. Imam Syafei menemukan tujuh puluh bab Fiqh termasuk dalam kaidah tersebut. Kaidah ini bersumber dari hadits Nabi Muhammad Saw. Innamal A’malu bin Niyaat. Sesungguhnya Amal itu tergantung pada niatnya.
Kisah tersebut setidaknya memberi saya inspirasi untuk berupaya -dengan segenap energi yang Allah anugerahkan untuk saya- menyadari bahwa setiap jenak memiliki hak untuk kita isi dengan kebaikan demi kebaikan, walau itu baru bisa kita niatkan. Wallahu a’lam.
Iklan

Tentang TaQ

Hanya manusia biasa yang ingin terbiasa menjadi hamba Allah. Ingin terbiasa di jalan menuju RidhoNya dan berhasil mendapat jatah sebagai penghuni surgaNya.
Pos ini dipublikasikan di Caring. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s