Nasehat untuk Diri

Seakan tembok tebal itu menghalangiku mendekat.  Menjadikanku tiada artinya dihadapan hawa nafsuku sendiri. Aku lemah dihadapan kesulitan. Aku terpuruk dihadapan tekadku sendiri. Seringkali aku mengikuti langkah sesat syetan dalam sadar dan tidak sadarku. Melalui kondisi lapang dengan kerja yang biasa dan terkadang tiada satupun karya yang aku persembahkan. Detik berlalu tanpa sekalipun rasa bahwa setiap detik akan dipertanyakan. Bahasaku kini menjadi tidak jauh dari ‘malas’ dan ‘bosan’. Tembok itu bernama maksiat. (M. Ruhy Banu)

 

Demikian Ruhy, seorang teman berkebangsaan Amerika serikat dan Pakistan ini menghadiahi kami sebuah kalimat yang mengilustrasikan keadaan sebagian besar diri kami. Sebuah ilustrasi yang cukup menarik, bermakna, dan menyentak kesadaran kami. Bahwa selama ini kami begitu bersantai diri dengan kondisi diri kami.

 

Sepanjang kehidupan yang terus berlalu, ada kesempitan yang kadang menyapa. Serta merta menyalahkan keadaan, lingkungan dan sesiapapun yang dirasa berhak dipersalahkan, tanpa sekalipun pada detik kesempitan itu ada. Meninjau kembali keadaan diri, mempertanyakan sekian tanya. Parahnya lagi kita sering tidak curiga pada diri sendiri. Bahwa penyebab sebenarnya berada pada keteledoran diri dalam menjalani kehidupannya. Atau berada pada cara yang mungkin menyimpang dan terlanjur dipraktekkan diri dalam detiknya. Atau mungkin berada pada pola interaksinya yang cenderung melukai hubungannya dengan sesamanya. Atau mungkin berada pada pola makan dan minumnya yang tidak sehat, sehingga memunculkan prilaku yang tidak sehat pula. Atau mungkin berada pada kecurigaannya yang tidak berkesudahan pada orang lain. Begitu banyak daftar kemungkinan yang mungkin menjadikan seorang diri begitu susahnya keluar dari lingkar kekerdilan dirinya.

 

Berbicara kekerdilan diri di hadapan semua ketidakberartian bagi kehidupannya, saya teringat dengan keluh Imam Syafe’i kepada gurunya. Syakautu ila waki’in su-i hifdziy. Fa arsyadany ila tarkil ma’asy. Wa akhbarany bi annal ‘ilma nurun. Wa Nurullahi la yuhda li ‘asy. Arti bebasnya: “Aku pernah mengeluh kepada guruku Waki’ tentang buruknya hafalanku. Kemudian beliau memberitahuku untuk meninggalkan maksiat. Juga Mengabariku bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya allah tidak akan diberikan kepada seorang yang melakukan maksiat.”

 

Demikian cara Imam Syafe’i keluar dari masalah ketidakberartian yang sedang melanda dirinya. Karena membaca, memahami, menghafal, menuliskan dan menyampaikan ilmu adalah keberartiannya. Ketika salah satu saja (menghafal) dari proses tersebut mengalami gangguan, mencarikan solusi adalah jalan penting yang harus segera ditemukannya. Apakah beliau kemudian mencurigai sesiapa dan apapun di luar dirinya? Tentu saja jawabannya tidak, dari syair itu terbaca jelas bahwa Imam Syafe’i mendapatkan pelajaran penting dari gurunya bagaimana menyelesaikan masalah dirinya. Yaitu dengan selalu berupaya meninggalkan maksiat, mewaspadai diri diatas kewaspadaannya kepada orang lain dan apapun di luar dirinya.

 

Makkah, 2 Shofar 1433

Iklan

Tentang TaQ

Hanya manusia biasa yang ingin terbiasa menjadi hamba Allah. Ingin terbiasa di jalan menuju RidhoNya dan berhasil mendapat jatah sebagai penghuni surgaNya.
Pos ini dipublikasikan di Caring. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s