Jalan Cinta ~Part 3~

Thibbun Nabawi

Selepas sholat subuh tadi Nusaibah mengeluhkan rasa sakit setengah dari bagian kepalanya. Deteksi thermometer mencatat 380 C suhu tubuhnya. Suhu tubuh yang melebihi normal itu melengkapi gejala ketidakbergairahannya untuk sekedar menggerakkan tubuhnya. Mengigau Bunda adalah nyanyian yang terdengar dari lisan Nusa.

Bingung sempat memerangkap diriku. Apa gerangan yang harus aku lakukan? Aku belum terbiasa menghadapi hal seperti ini sendiri. Selama ini Bunda selalu menyertai kami dalam menyelesaikan persoalan yang menyapa detik kami.

Ayah, Bunda, dan saudara-saudaraku lainnya membiarkanku di rumah bersama Nusaibah. Rumah kami tidak begitu besar, hingga dapat menguras tenagaku untuk sekedar menyapu debu-debu yang menyapa bagian bagian dari rumah sederhana ini. Dalam rumah ini hanya terdapat tiga kamar tidur, ruang tamu yang cukup untuk kami bertiga belas orang -ketika kami sedang berkumpul-, satu dapur dan dua kamar mandi.

Bang Miqdad dan Bang Mush’ab ada acara khiyam di kampusnya, Kak Rufaidah sudah tiga tahun belajar di negeri Nabi Yusuf. Mahmud menyertai Ayah dan Bunda menemui muslimin di Irian Jaya, Abdul Majid, Mufid, Mu’adz belajar di pondok pesantren di luar Madura. Maghfirah sedang melakukan Writing Tour ke Coban Talun Malang bersama FLP kids yang diikutinya. Abdullah sedang belajar di pondok pesantren tidak jauh dari rumah.

Aku sendiri kuliah di Universitas Ilmu Al Qur’an (UIQ) di Bangkalan. Aku mengiyakan permintaan Bunda untuk pulang menemani Nusaibah di rumah, mengingat aku tidak sedang memiliki aktivitas tambahan di kampus, disamping  kuliah juga sedang libur.

Menjadi penanggung jawab rumah walau hanya berpenghuni aku dan Nusaibah ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. Posisi Bunda tidak pernah akan bisa tergantikan. Namun begitu aku harus berlatih untuk menghadapi suasana ini dengan tenang, gegabah menelepon Bunda, Ayah dan saudarasaudaraku yang lainnya khawatir mengganggu konsentrasi mereka. Aku putuskan untuk membuatkan teh rosella, aku pernah melihat Bunda memberikan teh rosella kepada kak Rufaidah yang mengalami demam tinggi.

Bismillahirrahmanirrahim. Segera aku bawa kaki ini melangkah ke dapur, memanaskan air dan mencari bunga rosella yang Bunda simpan di lemari khusus minuman dan makanan kesehatan. Selain rosella satu botol madu, satu botol serbuk Nigella sativa yang terkenal dengan bahasa arabnya Habbatussauda’, masyarakat Indonesia akrab dengan nama Jinten hitam, dan satu botol minyak zaitun.

“Makanan dan minuman ini adalah kebutuhan primer bagi ketahanan tubuh kita, sebelum menyerahkan urusan kesehatan kita ke tangan dokter, maka jadikanlah dirimu sebagai dokter bagi dirimu sendiri….” Jelas Bunda suatu hari menjawab Mua’dz yang mempertanyakan maksud meletakkan makanan dan minuman di lemari khusus yang di daun pintunya diberi tulisan besar: Jadikanlah makanan dan minumanmu sebagai obatmu dan jadikanlah obatmu sebagai makanan dan minumanmu!

Aku masukkan tiga bunga rosella kering ke dalam gelas dan air yang sudah mendidih kutuangkan, lalu menutupnya hingga zatzat yang terkandung dalam bunga tersebut menyebar mengubah warna air menjadi merah. Tidak lupa aku menambahkannya dengan dua sendok teh madu. Kemudian aku membawa segelas teh rosella itu ke hadapan Nusaibah, sambil berharap Allah memberikan kekuatan kepada ikhtiar ini menurunkan suhu tubuhnya dan proses pengeluaran racun berlaku.

Nusaibah berhasil meminumnya sampai tetes terakhir, setelah pelanpelan aku jelaskan manfaat dari meminumnya. Selain itu aku memegang bagian tengkuknya dengan tangan kananku dan membaca surat al fatihah tujuh kali. Sebagaimana selalu Ayah mengajari kami untuk melakukan langkah pertama dalam pengobatan rasa sakit yang kami keluhkan.

“Seorang guru sempat menceritakan pengalamannya bersama surat AlBaqarah. Jantung koroner. Vonis dokter terhadap penyakit yang dideritanya. Namun sang guru tidak sebagaimana sebagian orang yang merasa takut menghadapi vonis dokter tersebut. Sesuai saran seorang Syeikhnya ia mengulang-ulang bacaan surat Albaqarah. Efek lapang dan merasa ada simpul simpul yang terasa menyesakkan dada perlahan membuka setiap huruf huruf itu terlantun ringan dari lisannya. Hingga kemudian kembali memeriksakan dirinya kepada dokter yang sama, setelah melalui general check up  disimpulkan bahwa penyakit yang sempat divoniskan kepadanya tidak berlaku lagi. Sang dokter heran dan menanyakan apa gerangan yang dilakukannya? Syeikh menjawab bahwa Allah yang menyembuhkannya melalui pembacaan rutin surat AlBaqarah pada  qiyamullailnya.” Cerita  Ayah suatu ketika setelah sholat subuh berjama’ah di ruang tamu yang juga berfungsi sebagai musholla kami.

Kisah Ayah tersebut menggerakkanku untuk mengamalkannya. Kemudian setelah berwudlu, mushaf bersampul biru yang tergeletak di meja belajar Nusaibah aku ambil, buka dan aku pilih surat Albaqarah. Aku mulai membacanya dengan suara pelan di samping Nusaibah.

Terlihat ketenangan menyeruak menampakkan rona di wajah imutnya. Setelah Albaqarah selesai aku baca, aku membiarkannya tidur dan melangkah ke ruang tamu untuk melanjutkan membaca Taysirul Kareemir Rahman fii Tafsiri Kalamul Mannan. Kitab tafsir yang ditulis oleh al ‘Allamah as Sheikh Abdurrahman bin Naseer Assa’dy. Sebuah karya tafsir monumental yang ringkas dan mudah sekali untuk  ukuran daya cerna otakku.

Untuk lima menit jeda aktivitas bacaku, iseng aku menelepon Abdullah di pondoknya Darul Hikmah, memintanya pulang barang sebentar untuk menemaniku dan Nusaibah di rumah, hingga Bunda, Ayah dan Mahmud datang. Nusaibah sakit, alasan yang aku ajukan untuk memintanya pulang. Setelah selesai menunaikan amanah keilmuan dan organisasinya di pondok, Abdullah berjanji akan datang. Semoga Allah menjaganya dan mencatat detik-detiknya sebagai jalan cinta menujuNya.

Iklan

Tentang TaQ

Hanya manusia biasa yang ingin terbiasa menjadi hamba Allah. Ingin terbiasa di jalan menuju RidhoNya dan berhasil mendapat jatah sebagai penghuni surgaNya.
Pos ini dipublikasikan di Cerita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s