Mengemil Negeri Lima Menara ~Part 1~

Mengemil Negeri Lima Menara

Negeri  Lima Menara. Sebuah judul novel yang diangkat dari pengalaman penulisnya. Ahmad Fuadi.  Secara harfiyah saya sempat mengartikan bahwa buku ini akan menceritakan tentang lima menara dunia. Namun setelah mencoba mengeja setiap kata yang tersaji di dalamnya, ada banyak warna yang disajikan dari kehidupan seorang Alif bersama temantemannya yang inspiratif dan motivatif. Bahkan tentang lima menara yang sempat saya persepsikan di awal nyaris tidak saya temukan kisahnya dalam novel ini. Kecuali kisah bagaimana mimpi itu bermula dan berproses menjadi nyata.

Novel ini cukup tebal dengan 416 halaman yang dibagi dalam 24 judul, membacanya tidak membosankan karena setiap bab tidak banyak tersaji dalam sekian halaman. Dengan bahasa yang ringan dan mengalir dalam 6 jam tuntas saya baca sampai huruf terakhir. Alhamdulillah. Membaca dengan bilangan satuan tersebut termasuk prestasi bagi saya, mengingat selama ini tiga hari adalah masa yang saya butuhkan untuk membaca sebuah buku secara tuntas.

Bisa jadi pada saat itu saya tidak memiliki aktivitas yang berarti, sehingga waktu yang tersedia saya pakai untuk membaca Novel NLM ini. Tentu saja harus saya akui membaca dengan kecepatan yang tidak biasa dalam ukuran kebiasaan saya membaca, hasil serapnya akan berbeda dengan membaca yang pelan dan penuh penghayatan yang biasa akan menghabiskan waktu tiga hari. Sedianya saya dapat menceritakan secara detail alur, tokoh dan pergulatannya, serta pesanpesan yang tersimpan sebagi mutiara dari sebuah cerita, jika saya membaca dengan sambil mengunyah sempurna bacaan saya, namun tidak demikian adanya. Saya nyaris tidak dapat menceritakan ulang dari apa yang saya baca.

Fenomena yang terjadi pada kebiasaan saya ini, mengingatkan saya pada sebuah pernyataan seorang guru saya, beliau berkata sambil menyitir sabda Nabi Muhammad Saw. bahwa akan datang suatu masa ilmu melimpah tapi keberadaannya sama saja dengan tiadanya. Fenomena ini ternyata sudah tampak pada zaman kita saat ini. Tidak perlu jauhjauh misalnya apa yang telah saya alami tersebut di awal.

Sarana dan prasarana untuk mendapatkan ilmu sangat mudah, buku dengan beragam keilmuan nyaris setiap hari lahir dan dicetak ulang, membutuhkan informasi dengan cepat tinggal menuliskan satu kata kunci pada mesin pencari informasi semacam syeikh google misalnya. Semuanya serba mudah dan cepat. Tapi mengapa kemudahan untuk berilmu itu nyaris tidak terjejak dalam caracara kita berinteraksi baik dengan diri kita, orang lain, lingkungan dan bahkan dengan Pencipta kita, Allah. Kita sungguh semakin berjarak, mengapa? mengapa? mengapa? Jawabannya berada pada cara berpikir kita yang selama ini menganggap ilmu adalah ilmu, bukan ilmu untuk amal.

Mengingat pernyataan tersebut di atas, saya kembali berpikir untuk kembali membenahi cara belajar saya dalam membaca. Yang semula saya terbiasa membaca cepat tanpa memberi waktu yang sesuai bagi mesin cerna kata bekerja dengan baik, kali ini saya harus mengubahnya terbiasa membaca sedikit demi sedikit layaknya kita ngemil camilan, mengunyah satu demi satu sehingga tercerna sempurna oleh lambung dan usus kita. Begitupun kegiatan membaca NLM kali ini, saya ingin melatih diri saya dan siapapun yang hendak turut dalam proses ini. Kita mencoba membacanya secara ‘ngemil’.

Novel NLM diaawali dengan menyuguhkan panorama Amerika di musim salju. Penulis menuturkannya dengan sangat cantik dalam frase: “Kubah raksasanya yang berundakundak semakin memutih ditaburi salju, bagai mengenakan kopiah haji.” Penyuguhan setting Amerika dengan musim salju bukan tidak berarti apa-apa bagi pergulatan yang akan kita dapatkan pada setiap bab dari novel ini. Bab pertama -yang diberi judul “Pesan dari Masa Silam”- ini memberi pesan bahwa kesuksesan yang sedang dijalani oleh tokoh Alif dan sahabatsahabatnya itu tidak terjadi secara kebetulan, ada proses panjang yang mengantarkan mereka berada dalam denyut realita yang sebelumnya hanya berupa impian dan candaan belaka. Maka, pada bab bab selanjutnya kita akan diajak menyelami proses penempaan mimpi mereka menjadi realita di kemudian hari.

Makkah, 20 Dzulhijjah 1432

Iklan

Tentang TaQ

Hanya manusia biasa yang ingin terbiasa menjadi hamba Allah. Ingin terbiasa di jalan menuju RidhoNya dan berhasil mendapat jatah sebagai penghuni surgaNya.
Pos ini dipublikasikan di Caring, Dunia Eja. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s