Jalan Cinta ~Part 2~

Jalan Cinta

“Prang, pang, prang, pang..” Benda berat jatuh.

Astaghfirullahal Adhim. Serunya, spontan dada sebelah kirinya diraba. Jantungnya terasa copot. Lamunannya pun terbang mengikuti suara mengejutkan itu.

Seekor kucing telah berhasil menjatuhkan piring yang diletakkan sembarangan di teras Masjid Pondok.

“Diberitahukan kepada saudara Abdullah untuk segera mendatangi kantor Pesantren. Keluarganya menelepon.” Terdengar suara salah seorang keamanan Pesantren memanggil namanya.

Segera ia melangkah membawa tubuhnya menuju kantor Pesantren. Lima menit menunggu, telepon berdering, Mas Hassan menyilahkan kepadanya untuk mengangkat teleponnya.

Setelah salam diucapkannya terdengar isak tangis di seberang.

“Abdullah, segera pulang! Nusa sakit parah.” Mahirah mengabarinya.

“Sakit apa, Kak? Saya sedang mendapatkan sekian amanah di Pondok yang belum ditunaikan. Apakah harus saya pulang?” Bertubi Abdullah menanyakannya.

“Terserah bagaimana baiknya menurut, Abdullah!”

“Oke, Kak. Segera saya selesaikan beberapa pekerjaan di Pondok, setelah itu langsung pulang, insyaAllah. Salam saya untuk Nusa! Syafahallah!” Jawab Abdullah berjanji, kemudian mengakhiri teleponnya.

Sebagai seorang santri Pondok Pesantren Darul Hikmah, Abdullah berazzam untuk senantiasa memroses dirinya menjadi pemuda Islam yang tangguh. Ketangguhan yang coba diasah untuk menjadi bagian yang tidak terpisah dari dirinya. Baginya kehidupan di Pesantren merupakan fase ulat menjadi kepompong. Ia berharap keindahan kupu-kupu akan menjadi kesejukan bagi siapapun yang memandang dirinya kelak, ketika dinyatakan bahwa dirinya sudah siap terbang bebas membangun batu bata-batu peradaban dari nektar yang telah dihisapnya dari bunga-bunga ilmu yang sempat dihinggapinya.

Abdullah mulai menuntaskan satu per satu amanah yang diembankan kepadanya. Menulis tulisan lepasnya pada media yang difasilitasi Pesantrennya untuk menyalurkan kegemarannya menuangkan makna yang ditemuinya tercecer di setiap detik detik produktifitasnya. Menyerahkan tanggung jawabnya atas kegiatan santri yang dikoordinirnya, kepada staf dibawahnya. Meminta kesediaan Ustadz Hanif untuk menampung anak didiknya di Markaz Al Qur’an.

Abdullah merupakan Ustadz termuda di Markaz Al Qur’an. Karena pada usia 10 tahun, Abdullah sudah mendapatkan syahadah sebagai seorang Hafidz. Oleh karena prestasi dininya itulah, amanah menjadi barisan Asatidz di Markaz Al Qur’an diembankan kepadanya sejak usianya 12 tahun. Selain menjadi salah satu Asatidz ia juga masih menempuh studi di Madrasah Tsanawiyah kelas dua.

Merasa amanahnya sudah selesai ditunaikan dan sebagian dilimpahkan kepada rekan sesama Asatidznya, Abdullah menghadap Kyai Yusuf, untuk meminta izin pulang. Menyambut permintaan Kakaknya. Mahirah.

“Sampaisalamkan saya untuk Adikmu, ‘Abbudy. La Ba’ts Tohuran, insyaAllah!” Pesan Kyai sambil menepuk punggung Abdullah, demi melepas santri kesayangannya.

‘Abbudy merupakan nama panggilan Abdullah yang pertama kali dilontarkan Kyai Yusuf. Nama tersebut juga sebagai nama panggilan kesayangan teman-teman sejawatnya sesama Asatidz. Nama yang dikenal dalam bahasa Arab sebagai Tasghir. Semacam nama pendek untuk memanggil nama seseorang dengan mudah dan bermakna sayang atau memanjakannya.

Ayahnya sempat mengatakan bahwa nama yang dipilihkan untuknya, mengandung harapan agar Abdullah dapat meneladani sahabat sahabat Nabi Saw,terutama sahabat Abadillah. Bentuk jamak dari Abdullah. Abdullah bin Abbas sebagai seorang mufassir, Abdullah bin Zubair bin al ‘awwam dengan kekuatannya menjadi barisan para pejuang Islam yang handal dikelasnya, Abdullah bin Umar bin al Khottob dengan kezahidan dan kewaraannya, Abdullah bi rawahah seorang penyair yang mujahid dan Abdullah Abdullah lainnya dengan segenap keunggulannya. Harapan sang Ayah yang begitu agung itu, menjadi pemicu yang cukup efektif bagi kehidupan Abdullah, menjadi pupuk yang efisien bagi pertumbuhan dan pengembangan potensi dirinya. Mempelajari dan menyerap karakter mulia para sahabat menjadi aktivitas yang sangat disenanginya.

Setelah izin dari Kyai Yusuf, Abdullah dapatkan, ia bergegas melangkahkan kakinya ke simpang tiga Palduding. Karena dari tempat tersebut ia akan mudah mendapatkan kendaraan umum yang akan membawanya menuju rumahnya di kota Pamekasan.  Tiga puluh menit ke depan waktu yang mungkin akan ditempuhnya menuju rumah yang seisinya selalu dirinduinya

“Abdullah!” Sesampainya di terminal, terdengar seseorang menyapanya setelah turun dari kendaraan yang ditumpanginya. Spontan kepalanya menoleh ke belakang.

“Rudi, Alhamdulillah kembali bertemu denganmu setelah sekian tahun kita tidak saling bertemu” Segera Abdullah merangkul teman kecilnya sekaligus tetangga rumahnya itu.

“Amiin”

“Kemana saja, Rud? Dan apa yang kamu lakukan di sini?” Berondong pertanyaan Abdullah sampaikan. Membuat Rudi tersipu, antara malu dan tidak percaya terhadap sesuatu yang dilakukannya.

“Aku membantu Bapak menjaga warung di sini, yuk mampir ke warung kami!” Pinta Rudi.

“Terima kasih, Rud. Bukannya aku tidak dapat memenuhi permintaan tulusmu, tapi aku sekarang tergesa untuk sampai rumah sesegera mungkin,karena adikku yang bungsu sedang sakit. Pada kesempatan yang lain aku mampir deh,insyaAllah!” Tegas Abdullah sambil undur diri menyalami Rudi.

Rumah Abdullah tidak jauh dari terminal. Dengan jalan kaki, lima menit saja akan sampai di rumahnya. Di mulut gang menuju rumahnya tampak bendera hitam setengah tiang.

Siapa gerangan yang berpulang keharibaan ilahi Rabbi? Hatinya bertanya.

Iklan

Tentang TaQ

Hanya manusia biasa yang ingin terbiasa menjadi hamba Allah. Ingin terbiasa di jalan menuju RidhoNya dan berhasil mendapat jatah sebagai penghuni surgaNya.
Pos ini dipublikasikan di Cerita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s