Air: Guru Tanpa Aksara

Air: Guru Tanpa Aksara

“Bergurulah pada air!” Nasehat Majd ketika mendapati saya selalu gusar dan tidak sabar. “Siklus air adalah simbol kesabaran atas konsensus alam. Air tidak pernah mengeluh ketika dipanaskan ataupun didinginkan, bahkan dengan dua kondisi itu ia bisa memberikan manfaat bagi orang orang yang membutuhkannya, dan salah satu sifatnya adalah selalu mengikuti wadah yang ditempatinya.” Lanjutnya meyakinkan saya.

Nasehat Majd tersebut menginspirasi saya untuk mendaulat air sebagai salah satu guru kehidupan saya. Selain itu Al-Qur’an juga menganjurkan umat ini untuk memikirkan alam ini. Termasuk juga air sebagai bagian terpenting pembangun kehidupan biologis kehidupan makhluk hidup (QS. Al-Anbiya’: 30). Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Imrom: 190-191 yang berbunyi:

“Sesungguhnya dalam penciptan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran ALLAH) bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat ALLAH sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Rabbana, tidaklah Engkau Menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka”

Air mengajarkan saya untuk istiqomah dan memiliki fleksibilitas dalam beradaptasi. Pelajaran itu saya dapatkan dari kandungan air itu sendiri yang tidak berubah. Seperti itulah semestinya kita. Dimanapun berada kita harus selalu bisa menyesuaikan diri, beradaptasi dan tidak mudah mengeluh terhadap kondisi yang terjadi dan menyapa jenak kita, bahkan lebih jauh lagi kita bisa member warna lingkungan tersebut dengan nilai nilai kebaikan dan tetap memberikan konstribusi dalam keadaan apapun juga. Dan ketika kita berinteraksi di dalamnya, dituntut juga untuk selalu memegang identitas diri yang tidak akan berpengaruh dan bersekutu terhadap sesuatu keburukan. Bagaikan air yang tak akan bercampur dengan minyak dan hanya bercampur dengan bahan senyawanya.

Air juga mengajarkan saya untuk tidak menyerah dan putus asa, setiap kali aral dan rintang menyapa jalan sukses yang kita ingin capai. Kita bisa melihat bagaimana air yang tidak pernah bisa dibendung dan terbendung. Tertutup satu jalan di depan, ia akan berusaha mencari jalan lain dan terus mencari sampai jalan itu benar benar didapatinya. Air tidak pernah menyia-nyiakan lubang bocor di ember atau di bak sekecil apapun. Ia akan mengalir deras menuju kebebasan bergerak dan keberhasilan.

Air mengajarkan saya untuk selalu mendenyutkan produktifitas berkelanjutan saya. Tidak pernah merasa puas untuk melakukan kebaikan demi kebaikan. Karena satu kebaikan yang berhasil kita selesaikan, kebahagiaan akan bahagia menjadi bagian diri kita. Kita tidak pernah mengenal titik dalam kamus perjuangan kita, kesabaran dan keikhlasan yang membersamai produktifitas kita itu akan menjadi nilai lebih yang akan menjadi bagian bekal kita menghadap Tuhan kelak. Bagaikan air yang membuat batu berlubang ataupun yang mengikis karang, dengan butiran butiran kecil ataupun desiran buih yang serempak tapi terus menerus tanpa mengenal lelah ataupun berhenti sesaat selama masih terdapat aliran.

Air mengajarkan saya untuk menjadi generasi yang memiliki imunitas yang tinggi. Menjadi generasi yang kuat dan tidak cedera oleh masalah. Sebagaimana dapat kita lihat  bagaimana air menerima lemparan batu. Ketika batu itu menyentuh permukaannya, ia membentuk lubang kecil di permukaan air sesuai ukuran batunya. Akan tetapi, beberapa detik kemudian, permukaan air akan kembali datar seperti semula. Batu tidak meninggalkan bekas sedikit pun terhadap bentuk permukaan air. Justru masuknya batu ke dalam air akan menambah tinggi permukaannya. Begitu seharusnya kita memaknai masalah yang menyapa kita. Masalah yang datang bukan lantas membuat kita cengeng dan menyerah. Disinilah keteguhan kita diuji. Disini pulalah imunitas diri kita dikuatkan.

Air mengajarkan saya bahwa keadilan itu bukan berarti harus selalu mendapatkan jatah yang sama. Sebagaimana yang dipropagandakan kaum feminisme tentang pentingnya emansipasi wanita untuk mendapatkan jatah waris yang sama sebagaimana kaum adam.  Dari rumus molekul air H2O saya belajar bahwa untuk sebuah manfaat yang lebih besar, keadilan itu tidak harus berarti mendapatkan sesuatu yang sama rata. Coba kita bayangkan kalau kita mendefinisikan keadilan itu sebagaimana mereka memahaminya, kalau kita terapkan pada rumus molekul air tersebut menjadikannya H2O2 misalnya, bukan air yang memiliki kemanfaatan yang besar bagi kehidupan kita yang ada. Fungsi air akan berubah, air itu akan berubah menjadi hydrogen peroksida yang dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan.

Masih banyak hal yang dapat kita ambil dari keberadaan, fungsi dan manfaat air bagi kehidupan kita. Oleh karenanya Tidak salah dan rasanya juga tidak berlebihan jika saya memberinya gelar sebagai guru tanpa aksara. Karena air tidak pernah secara verbal mengajarkan kita. Namun, kita dituntut untuk proaktif merenungi, memaknai dan menerapkannya dalam keseharian kita. Karena hidup adalah memaknai.

Selamat menemukan makna lain dari keberadaan, sifat, fungsi dan manfaat air bagi kehidupan kita. Hasil proses berguru saya kepada air ini hanya sebagian kecil yang bisa mewakili sekian makna yang saya yakin masih banyak dan belum tergali. Penemuan itu akan sangat berarti jika kita bisa menerapkannya dalam kehidupan kita. Sekedar menemukan juga hanya akan menambah daftar penimbunan ketidakberartian bagi sejarah keilmuan kita. Karena, kita harus yakini bahwa setiap ilmu yang kita dapatkan harus berujung pada perbuatan.

Makkah, 6 Rabiul Awal 1432 H.

Iklan

Tentang TaQ

Hanya manusia biasa yang ingin terbiasa menjadi hamba Allah. Ingin terbiasa di jalan menuju RidhoNya dan berhasil mendapat jatah sebagai penghuni surgaNya.
Pos ini dipublikasikan di Dunia Hikmah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s