Jalan Cinta ~Part 1~

Jalan Cinta

“Nusa kok sudah pulang?” kusambut Nusa dengan pertanyaan, karena tumben jam sepuluh sudah pulang dari sekolah. Tidak biasanya. Ada apa? Tanyaku dalam hati. Melihat wajahnya yang memerah buru-buru kuhampiri dan menanyakannya kembali, ada apa gerangan?

“Hiks.. hiks.. hiks” Tangisnya pecah setelah kuberhasil merangkulnya. Kemudian kumemapahnya ke sofa di ruang tamu.

“Iya, ada apa, cinta?” perlahan kutanyakan kembali setelah tangisnya mereda. Tapi tetap tidak ada satu katapun yang dikeluarkannya. Ada apa gerangan? Tanyaku kembali pada diriku sendiri. Aku bingung sendiri apa yang harus aku lakukan. Yang dia butuhkan Bunda, tapi Bunda sedang di luar kota untuk menghadiri undangan komunitas muslim di Irian Jaya. Jam dua dini hari tadi Bunda, Ayah dan Mahmud berangkat ke sana.

“Bunda mana, kak?” perlahan suara itu kudengar dari mulut mungilnya. Yes! Pertanda sudah reda tangisnya dan bisa dikorek ada apa gerangan dengannya. Hatiku berteriak mendapati  Nusa bicara, setelah tadi aku kehabisan cara untuk mendiamkan seseggukannya. Hampir saja aku akan menelepon bang Miqdad. Karena selain bunda Nusa mau mendengar bang Miqdad.

“Bunda, Ayah dan bang Mahmud lagi ditugaskan Allah menemui saudara-saudara kita, say” Sambil kubelai rambut sebahunya, kusampaikan keberadaan Bunda. Nusa mulai tenang dan butiran bening matanya sudah berhenti kayaknya.

“Karena itu, kak Ira ada di rumah?” tanyanya lagi heran mendapatiku di rumah.

“Yup!” Jawabku singkat sambil mendekapnya penuh rindu.

“Lalu tadi adik kakak ini siapa yang bantu nyiapin ke sekolah?”

“Bang Mush’ab, kak.”

“Bang Mush’ab ga bilang kalau Bunda keluar kota?”

“Nggak, soalnya tadi  Nusa juga buru-buru ke sekolah. Bangunnya telat, kak”

“Wah adik kakak yang cantik ini kenapa masih telat bangun tidurnya?” tanyaku sambil mengelus-ngelus rambutnya yang lembut.

“Biasa semalam Nusa telat tidurnya, kak”

“Hah! Apa yang dilakukan, Nusa?”

“Hafalanku, kak!” ujarnya dan buru-buru menundukkan kepala.

“Ada apa dengan hafalanmu, Nusa?”

“Kuulang-ulang, tapi tetap saja Nusa tidak hafal dengan baik. Hafal dua ayat, tapi lupa setelah hafal dua ayat yang baru, begitu seterusnya.” Keluhnya

“Nusa ngafalin dengan siapa?”

“Awalnya Nusa ditemani bang Miqdad. Dihadapan bang Miqdad Nusa berhasil ngafalin lima ayat, kak. Sebelum tidur coba Nusa ulang lagi, tapi sama sekali Nusa lupa. Sudah Nusa coba ulang lagi, ulang lagi sampai Nusa tidur sendiri. Dan akhirnya di depan bu guru Rina tadi Nusa sama sekali tidak dapat mengingat satu ayat pun dari lima ayat yang sudah Nusa hafal semalam bersama bang Miqdad” panjang lebar Nusa menceritakan sendiri sebab hilangnya keceriaannya. Kronologis yang cukup beralasan mengapa kesedihan telah menggelayuti ruang hatinya, yang kemudian mengirimkan embun di sela-sela matanya.

Kuraih tubuh mungilnya, kudekap erat, sambil membisikkan kepadanya semangat bahwa masih ada kesempatan baginya untuk mencobanya lagi.

****

Nusaibah. Nama indah yang dihadiahkan Ustadz Mu’in untuk anak kesepuluhnya. Nusa, merupakan panggilan kesayangannya. Kemampuan Nusa dalam menghafal Al-Qur’an tidak sama dengan kakakkakak dan abangabangnya. Namun begitu kata ‘putus asa’ tidak pernah ada dalam kamus benaknya.

Selalu terngiang dalam pikiran Nusa, kisah seorang guru yang pernah diceritakan Bunda sebagai pengantar tidurnya. Seorang guru yang dengan lugas, jelas, dan komunikatif menyampaikan ilmu fiqh, muamalah, jinayah kepada murid-muridnya.Sang guru yang jauh lebih muda dari murid-muridnya itu sempat minta izin untuk minum.

“Mengapa Anda minum, padahal ini kan bulan Ramadhan?” Protes murid-muridnya mendapati ulah gurunya.

“Aku belum wajib berpuasa.” Jawab sang guru.

“Siapakah yang tampak nyeleneh itu? Guru itu bernama Muhammad Idris Asy Syafi’i. Terkenal dengan nama Imam Syafi’i. Pada usia belum baligh beliau sudah menjadi ulama yang disegani” Jelas Bunda mengakhiri cerita pengantar tidurnya.

“Wah adik sholehah ini, mengapa termenung? Apa yang dipikirkan?” Tanyaku membuat reflek tangan Nusa menjauh dari dagunya.

“Nusa kangen Bunda, kak.”

“Ya sudah, kak Ira gantiin Bunda cerita, gimana? Mau kak Ira certain tentang apa?” Tawarku dan Nusa merebahkan dirinya.

“Ceritakan untukku tentang Nusaibah Ra. Kak!”

“Oke, dengarkan ya!”

“Seorang perempuan yang sebanding dengan seribu laki-laki. Seorang perempuan yang berbai’at kepada Rasulullah Saw di ‘Aqobah. Seorang perempuan yang turut serta dalam perang Uhud bersama suami dan anaknya. Ia pergi bersama pasukan kebenaran untuk memberi minum prajurit yang kehausan dan mengobati prajurit yang terluka.

Seorang perempuan yang mencintai Allah dan RasulNya melebihi kecintaan terhadap dirinya. Seorang perempuan yang menyejarah dengan kepahlawanannya melindungi Rasulullah Saw ketika kaum muslimin dikalahkan, ia segera lari menuju Rasulullah Saw, ia segera melompat dan melindungi Rasulullah Saw dengan pedangnya. Ia melempar anak panahnya sehingga ia sendiri mendapatkan banyak luka. Seketika datanglah Ibnu Qomi’ah –la’natullahi alaihi- yang hendak membunuh Rasulullah Saw. Maka berdirilah Nusaibah Ra diantara Ibnu Qomi’ah dan Rasulullah Saw. Kemudian Ibnu Qomi’ah memukul Nusaibah Ra di bagian belakang lehernya dengan pukulan yang sangat keras. Pukulan itu menyebabkan ia terluka dengan luka yang besar dan menganga. Namun ia kembali memukulnya dengan beberapa pukulan. Akan tetapi musuh Allah itu memakai tameng dari besi. Nusaibah Ra tidak menyerah, ia tetap berada disana untuk melindungi yang ia cintai Rasulullah Saw sampai ia mendapatkan dua belas luka di sekujur tubuhnya.”

Sebelum cerita habis dibacakan, Nusaibah sudah terlelap. Kemudian aku berbaring di sampingnya, sambil berharap esok adalah kebaikan yang berenergi bagi kelanjutan jalan cinta ini. Karena jalan ini, merupakan kebaikan yang menjadi energi bagi kelahiran kebaikan selanjutnya.

Iklan

Tentang TaQ

Hanya manusia biasa yang ingin terbiasa menjadi hamba Allah. Ingin terbiasa di jalan menuju RidhoNya dan berhasil mendapat jatah sebagai penghuni surgaNya.
Pos ini dipublikasikan di Cerita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s