Bersemi di Semua Musim

Aku terpana melihat kesederhanaan yang selalu ditampilkannya. Ketelatenannya mengajariku membaca hurufhuruf Arab adalah aroma yang semerbak dibaginya. Setiap maghrib menjelang aku menemaninya muraja’ah hafalannya. Tidak ketinggalan aku juga dibimbingnya menghafal dari surat pendek. Sungguh kesempatan yang luarbiasa yang harus aku syukuri dan menyambut uluran tangannya dengan memperkuat tekad dan semangat.

Orang tuanya – sebagai majikanku – memberinya nama Nusaibah. Sebuah nama yang indah. Sebuah nama yang mengingatkanku pada saatsaat indah membersamai majelis dzikir Emak. Dari Emaklah aku mengetahui kisah hidup sahabat Nabi yang bernama Nusaibah. Seorang perempuan yang sebanding dengan seribu laki-laki. Seorang perempuan yang berbai’at kepada Rasulullah Saw di ‘Aqobah. Seorang perempuan yang turut serta dalam perang Uhud bersama suami dan anaknya. Ia pergi bersama pasukan kebenaran untuk memberi minum prajurit yang kehausan dan mengobati prajurit yang terluka.

Seorang perempuan yang mencintai Allah dan RasulNya melebihi kecintaan terhadap dirinya.

Seorang perempuan yang menyejarah dengan kepahlawanannya melindungi Rasulullah Saw ketika kaum muslimin dikalahkan, ia segera lari menuju Rasulullah Saw, ia segera melompat dan melindungi Rasulullah Saw dengan pedangnya. Ia melempar anak panahnya sehingga ia sendiri mendapatkan banyak luka. Seketika datanglah Ibnu Qomi’ah –la’natullahi alaihi– yang hendak membunuh Rasulullah Saw. Maka berdirilah Nusaibah Ra diantara Ibnu Qomi’ah dan Rasulullah Saw. Kemudian Ibnu Qomi’ah memukul Nusaibah Ra di bagian belakang lehernya dengan pukulan yang sangat keras. Pukulan itu menyebabkan ia terluka dengan luka yang besar dan menganga. Namun ia kembali memukulnya dengan beberapa pukulan. Akan tetapi musuh Allah itu memakai tameng dari besi. Nusaibah Ra tidak menyerah, ia tetap berada disana untuk melindungi yang ia cintai Rasulullah Saw sampai ia mendapatkan dua belas luka di sekujur tubuhnya.

Tidak terasa kisah Nusaibah Ra. itu mengembunankan mata dan hatiku. Menjadi penawar rinduku kepada Emak.  Kesyukuranku terus melantun seiring dengan interaksiku dengan Nusaibah menjadi kerap. Karena setiap malam dari harihariku di Makkah membersamainya mengakrabi ayatayat cintaNya. Ternyata ketakutan yang banyak digambarkan oleh orangorang yang datang dari negeri ini menjadi TKW tidak semuanya benar. Ada keluarga yang terbentuk tidak mengikuti trend yang berkembang deras menyerang norma bahkan nilai yang terkenal di masyarakat. Keluarga inilah salah satu contohnya. Sesuai dengan anjuran Emak untuk tidak mengkhwatiri majikan yang akan aku dapati di negeri mulia ini, Bersama keyakinan itu Allah menetapkanku menjadi bagian keluarga pecinta AlQuran.

Membersamai kehidupan mereka, hidupku kerasa sejuk dan berwarna. Nusaibah anak perempuan satu-satunya di keluarga ini.

Bersamanya aku merasakan energi positif ikut mengaliri kehidupanku. Ia nyaris tidak pernah menyuruhku, kecuali pekerjaan yang tidak bisa dia selesaikan sendiri. Adalah keberkahan yang tidak terputus dari Allah, membersamai keluasan hati yang dimiliki penghuni rumah penuh kebersahajaan ini.

Pada usianya yang ke-23 ia telah berhasil mengantongi gelar sarjana pascasarjana syari’ah dengan predikat mumtaz bi syaraf. Sebuah prestasi langka bagi pemudi Saudi. Selain juga yang tidak kalah mencengangkannya adalah prestasinya meraih sanad dengan sepuluh qiro’at dari syeikh Nabhan Al Mishry. Sebuah prestasi yang belum banyak dicapai oleh perempuan Saudi seusianya.

Dua hari setelah kakiku menginjakkan rumah penuh keberkahan ini, Khotmil Qur’an untuk keberhasilannya mendapat sanad qiro’at ke-sepuluhnya digelar. Ada buncah yang tertahan, ada gemuruh yang cukup melantakkan kebebalan diriku mendengar sulaman doa yang dipanjatkan. Kesejukan menjalari sekujur tubuhku, hening sekaligus bening mencairkan kebekuan hatiku, mencipta harmoni yang melapangkan.

Musim panas yang sedang menggarang menjadi tiada berarti. Karena hati yang akrab dengan Al Qur’an tidak mengenal musim kecuali musim semi. Musim yang senantiasa menumbuhkan bungabunga yang indah dipandang sepanjang masa. Begitulah kiranya hati penghuni rumah ini tidak pernah mengenal musim kecuali musim semi yang ada dalam kamus kehidupan hatinya.

Iklan

Tentang TaQ

Hanya manusia biasa yang ingin terbiasa menjadi hamba Allah. Ingin terbiasa di jalan menuju RidhoNya dan berhasil mendapat jatah sebagai penghuni surgaNya.
Pos ini dipublikasikan di Cerita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s