Bingkisan dari Emak

Bingkisan dari Emak

“Hanya ini yang bisa Emak berikan untuk bekalmu, Nak!” Ucap Emak menyerahkan bingkisan dengan pita hijau menghias cantik. Buncah di dada mendorong butiran beningku mendesak sudut mataku mengeluarkannya.  Berhambur tubuh ringkihku meraih tubuh Emak. Erat sekali.

“Do’a Emak akan selalu menyertaimu, Nak! Kamu akan baikbaik di sana!” Bisik Emak masih dengan suara tenangnya.

Tidak lama lagi semburat senyum, belai lembut tangannya dan mutiara nasehatnya akan menjadi nada kerinduan yang akan perih terasa jika kuingat.

Dengan sangat terpaksa aku harus mengambil keputusan ini. Menyambut kesedian kang Aiman membantuku menuju negeri yang selama ini bersenandung indah dalam daftar kerinduanku.

Makkah AlMukarramah. Begitu Negeri itu akrab di hati semua hati muslim di permukaan bumi ini. Negeri yang selalu memesona hati umat Islam tertambat di sana. Tidak terkecuali hatiku yang telah sekian lama tertambat. Ingin kakiku ini melangkah di atas kegersangan tanahnya. Mata ini memandang berlama-lama kesejukan baitullah. Telinga ini mendengar sendiri rajutan pinta Tawwafin yang mengelilingi ka’bah tanpa putus. Hati ini merasakan ketenangan yang tiada satupun kata yang mampu mewakili penggambarannya.  Aku ingin semua perangkat diriku itu merasakan sendiri, keindahan yang selama ini hanya dapat aku dengar dari tetangga dan orangorang yang datang dari negeri itu.

Hari ini adalah hari keberangkatanku ke negeri itu.  Kang Aiman telah menyiapkan segala sesuatunya. Dengan visa pekerja aku ditaqdirkan berangkat. Berharap selain kerinduanku dapat terobati aku bisa sambil menjemput rizqiNya, untuk memanggil Emak merasakan keindahan negeri itu.

Mendapati ketegaran Emak, buncah yang dari tadi memenuhi dadaku perlahan berpendar dan membuat langkah kakiku ringan meninggalkan Emak untuk sementara waktu.

******

Sembilan jam burung besi itu membawaku jauh dari negeriku tercinta. Bandara King Abdul Aziz menjadi tempatnya menurunkan penumpang. Bersama penumpang lainnya aku menuruni tangga demi tangga sambil menyertakan kebesaran Allah dalam setiap desah nafasku. Tentu saja kalau bukan kehendakNya, aku tidak akan pernah merasakan kakiku ini menuruni dan menginjak tangga demi tangga ini. Tidak akan pernah bisa menghirup udara Jeddah.

Bus yang telah disiapkan untuk mengangkutku dan penumpang lainnya berhasil juga kuinjakkan kaki di dalamnya. Mengantarkan kami ke sebuah ruang untuk mengantri di peron-peron untuk menyetempel passport dan tanda kedatangan.

Para pekerja wanita sepertiku setelah mendapat stempel digiring ke sebuah ruang. Ruang khusus untuk menunggu majikan menjemput. Ruang 30×15 itu memuat sekian ratus pekerja wanita. Termasuk aku, yang tidak tahu sampai kapan aku harus mendekam, menunggu majikan datang menjemputku. Aku tidak tahu.

Dalam berjubelnya lautan perempuan yang memenuhi ruang yang sangat tidak cukup untuk menampung ini. Insiden saling sikut, saling dorong dan saling melempar maki cukup memekakkan telinga dan membuat dada terasa sesak.  Aku hanya bisa mengurut dada dan berusaha tenang.

Ingin duduk.  Hanya itu keinginanku saat ini. Seorang penjaga ruangan meneriakkan sebuah kalimat, tentu saja aku tidak paham apa yang dikatakannya. Namun, teriakannya cukup membuat ruangan ini mulai tenang, satu-satu beringsut dan mengambil posisinya masing-masing.

Dan akhirnya akupun mendapat tempat untuk mendudukkan tubuhku. Lega rasanya, tanpa harus menyakiti dan tanpa ikut memaki aku berhasil juga mendapatkan tempat. Setelah nyaman dan aman terasa, aku membuka tas ranselku. Mengambil sepotong wafer dan meraih bingkisan yang diberikan Emak. Sedianya Emak tidak perlu repot memberi bingkisan ini. Bisik hatiku sambil memeluk erat bingkisan itu.

Bingkisan dari Emak berhasil mengalihkan keinginanku untuk mengganjal perutku dengan sepotong wafer.

Perlahan pita yang menghias bingkisan itu kubuka dan selotip yang menempeli kertas pembungkus juga pelan kujauhkan.  Sebuah mushaf bersampul merah mawar, satu pena dan satu buku tebal. Sebuah hadiah yang sangat berharga! Gumamku pelan. Emak tidak pernah berhenti meyakinkanku bahwa hanya dengan tiga hal itu aku akan menemukan keberartianku.

Mushaf dengan sampul merah mawarnya telah membawaku pada sebuah malammalam indah bersamamu, Mak. Betapa engkau sangat menyayangi mushafmu ini. Mushaf dari almarhum Bapak sebagai mahar meminangmu menjadi bidadarinya. Bukankah malam-malammu selalu bersamanya? Tiadakah kau kesepian teman malammu kau limpahkan kepada anak semata wayangmu ini? Pertanyaan yang berseliweran muncul di ruang pikirku.

Pena ini adalah pena yang sangat berarti bagimu, Mak. Pena pertamamu memulai jalan cinta setelah Bapak menemui kepastiannya di kehidupan lain. Pena yang setia menemani setiap gores kata yang Emak bagi. Semoga ini bukan berarti Emak menghentikan kebiasaan menulisnya. Harapku mengalihkan pikiranku yang mulai jauh berpikir yang tidak-tidak.

Salah satu buku tulis yang kau jilid sendiri ini adalah hadiah rutin yang tidak pernah alpa kau berikan. Di sampulnya kau tulis: “Rekam Aktivitas Harianku”. Buku itu kubuka, eit ada kertas jatuh. Surat dari Emak.

Assalamualaikum wr wb

Mila, Emak harap kamu selalu dalam keadaan baik-baik. Dengan mushaf, pena dan buku tulis ini, Mila tidak lupa untuk tetap menjalani kebiasaan Mila menemani malammalam Emak selama di Indonesia.

Mila tidak perlu khawatir, Emak juga akan tetap menghidupkan malammalam kita. Emak di sini dan Mila di sana. Emak juga sudah mendapat mushaf dan pena yang baru dari Ustadzah Laily.

Emak menjawab kekhawatiranku. Buncah yang sama (saat raga ini berpamitan berjarak dari raga Emak) hadir kembali. Haru. Tidak terasa tetes embun mataku berebut tumpah membasahi sebagian kertas berwarna hijau muda ini.

Semoga mushaf yang sudah tidak baru, pena yang tintanya harus selalu kamu isi ulang, dan buku tulis ini dapat menjadi penawar bagimu ketika rindu menyapamu.

Tulis Emak membuat derai ini enggan berhenti.

Emak di Indonesia akan baik-baik saja bersama doadoamu. Jangan lupa doakan Emak di hadapan Ka’ban agar Allah menaqdirkan Emak menyusulmu!

Anakmu tidak akan pernah lupa hal itu, Mak. Harus jangan lupa! Tekadku dalam hati berusaha merekamnya pada kedalaman akal, hati dan seluruh anggota badanku.

Lenyapkan kekhawatiranmu mendapat majikan yang tidak baik. Hilangkan ketakutanmu mendapat perlakuan tidak baik. Kakimu menginjakkan negeri suci adalah kebaikan yang harus kamu syukuri. Selalu yakinlah kepada Allah. Maka Allah akan selalu menjagamu!

Optimis, tidak pernah memberi celah pesimis menguasai! Begitulah selalu mutiara berhargamu akan menemani hari-hariku di negeri wahyu.

Jakarta, 9 Februari 2011

Emakmu yang selalu merindumu tersenyum!

Kuseka derai yang mengembuni bulu mata dan membasahi pipiku. Tidak lama kemudian terdengar namaku dipanggil. Itu pertanda majikanku datang menjemput. Tanganku bergerak cepat memberesi barang-barangku dan memasukkan semuanya ke dalam tas tentengku.

Aku berdiri dan melangkah menghampiri sumber suara yang memanggilku. Aku tarik bibirku ke belakang dan menyodorkan pasportku. Aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku. Karena, tidak akan lama lagi raga dan ruhku akan berada di tanah suci itu.

Iklan

Tentang TaQ

Hanya manusia biasa yang ingin terbiasa menjadi hamba Allah. Ingin terbiasa di jalan menuju RidhoNya dan berhasil mendapat jatah sebagai penghuni surgaNya.
Pos ini dipublikasikan di Cerita. Tandai permalink.

4 Balasan ke Bingkisan dari Emak

  1. achoey el haris berkata:

    Salam persohiblogan
    Maaf baru posting dan blogwalking lagi nih

    Cerita yang indah
    Allah Maha Pembalas yang Baik

  2. mauna berkata:

    Semoga perjalanan kehidupan di makkah al mukarromah menjadi salah satu catatan ibadah… .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s