Senyum Persahabatan

Senyum Persahabatan

Awal musim dingin di Makkah menjadi kesempatan bagi virus influenza menyapa tubuh-tubuh dengan imunitas yang rendah. Termasuk tubuhku dengan imunitasnya yang selalu bertekuk lutut dihadapan virus-virus tidak berperikemanusiaan itu. Namun begitu semangatku untuk tetap bertahan mengumpulkan sedikit demi sedikit makna yang tercecer di dinding hari-hariku di sini, tidak pernah terkalahkan oleh serangan virus yang terus menggerogoti keseimbangan gerakku.

Sambil melayani bersin yang tiada henti, samar-samar terdengar suara gaduh di luar kamar. Perlahan kulongokkan kepala ke luar pintu. Tampak anak-anak flat lima bergerombol melingkari seseorang yang sebelumnya belum kulihat. Pasti anak baru. Pikirku meyakinkan.

“Ya Aisha, ta’aly!” Terlihat Reem melambaikan tangan dan memanggilku.

Buru-buru aku menurunkan kaca mata kudaku. Berdiri, meninggalkan tumpukan buku sebesar kepalaku, dan meluncur bergabung dengan teman-teman yang sedang asyik menyambut seorang penghuni baru flat kami.

“Kenalkan saya Asiyah” Tangannya terulur mendahuluiku. Kemudian kusambut tangannya dan kuperkenalkan namaku.

“Ayush” Panggil Ameerah, melihatku berbalik cepat untuk kembali ke kamarku. Ayush adalah nama panggilan teman-teman flat untuk memanggilku.

“Ajaklah Asiyah. Dia satu kamar denganmu menggantikan Hajar.” Ujarnya kemudian, menjawab pertanyaan yang belum sempat aku tanyakan.

Tanpa banyak bicara kugandeng senyum Asiyah masuk ke kamar kami. Kuberi tahu tempat tidur, lemari dan peraturan yang berlaku di kamar kami. Asiyah masih dengan senyum manisnya memperhatikan dengan seksama setiap aturan main yang telah kami sepakati dengan tiga penghuni kamar kami lainnya.

Setelah semuanya selesai, kubiarkan Asiyah menyelesaikan penataan barang-barang bawaannya. Aku minta maaf tidak dapat membantunya, karena panggilan alam lebih cepat minta jatah waktuku untuk segera dikeluarkan. Tiga orang teman penghuni kamar lainnya lagi bersenang-senang dengan mahram mereka, menghabiskan masa liburan kamis-jumat di luar asrama.

******

Urusanku selesai dan mendapati Asiyah belum beres urusannya, kusegera mendekatinya dan menawarkan tenaga yang mungkin dibutuhkannya. Masih dengan senyumnya yang tiada henti dia mempersilahkanku membantunya. Hanya lima potong baju, mengapa tidak kunjung selesai ya penataannya? Tanyaku dalam diam. Wah kalau bajunya mah sudah rapi tertata. Tapi, buku-buku setebal kamus Al-Munjid ini yang belum semuanya ditata. Aku terperangah melihat sekian buku-buku tulis itu.

Sudah sepuluh buah buku dalam hitunganku. Masih juga terus Asiyah keluarkan buku yang sama dari kopernya. Terhitung lima belas buah. Belum mulai kuliah sudah dengan buku-buku tulis yang semuanya tidak kosong, kapan ditulisnya ya? Tanyaku mempertanyakan keanehan yang ada, masih dalam diam.

“Li Ayyi Shay’ hadzihi ad-dafatir? Untuk apa buku-buku ini?” Akhirnya penasaran yang meliputiku jebol sebelum buku terakhir dari sekian bukunya itu masih di tangan, belum kumasukkan ke lemarinya.

“Ini kehidupanku” Jawab asiyah masih dengan senyumnya yang melekat menghiasi kepribadiannya.

“Madza taqsudeen?” Tanyaku kembali.

“Buku-buku inilah yang menemaniku menemukan senyum demi senyum dalam kehidupanku” Jawaban yang semakin membuatku tidak mengerti.

“Sudahlah hari sudah malam, aku ingin merebahkan tubuhku barang sejenak. Besok semoga mempertemukan kita kembali dalam kebaikan. Terima kasih kamu telah membantuku. Semoga Allah selalu membahagiakanmu” Katanya kemudian, seakan mengerti bahasa wajahku yang akan mengambil jatah waktunya untuk melayani penasaranku.

****

“Apa yang bisa aku bantu? Aku ingin membuatkanmu madu campur habbatussauda’ dengan air hangat, tapi tunjukkan kepadaku di mana dapur kita?” Tanya Asiyah. Setelah terbangun dari tidur nyenyaknya. Karena bersin akutku yang sungguh tidak mengenal waktu. Bangun tidurpun senyumnya tidak lepas dari bibirnya. Heranku mendapati senyumnya. Padahal aku telah mengganggu tidurnya. Aku tahu pasti dia sangat lelah setelah melalui perjalanan 12 jam Jauf-Makkah.

“Jangan repot-repot, biar aku sendiri yang buat. Maafkan aku telah mengganggu tidurmu”

“Jangan begitu, aku tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa kok. Lagi pula lelahku sudah terlunasi dengan rebahan tadi.” Asiyah masih bersikeras untuk membuatkanku madu. Katanya sih resep khusus dari Mamanya setiap kali flu disertai bersin juga melandanya.

Akhirnya aku pasrah saja. Aku tunjukkan dapur flat yang berada di samping kanan kamar kami.

Tidak lama kemudian Asiyah datang bersama satu gelas madu yang dicampur dengan habbatussauda’ (Nigella Sativa). Menyodorkannya kepadaku. Dengan ditemani satu gelas obat dari Asiyah itu, aku kembali membuka pembicaraan yang semalam belum tuntas kita bicarakan.

Asiyah kemudian menceritakan bahwa buku-buku itu berisi tentang kehidupannya. Buku-buku itu adalah pemaknaannya terhadap derik detik yang tiada pernah berhenti. Melalui buku-buku itu Asiyah menemukan alasan untuk menjalani detik demi detik kehidupannya dengan selalu tersenyum.

“Aku ingin aktivitas menulisku ini dapat memberiku pengertian alur kehidupan yang tepat dan yang harus aku lalui demi menuju perjumpan dengan-Nya!” Pernyataan yang menyejukkan itu tepat diutarakannya bersamaan dengan tetes terakhir ramuannya menetesi tenggorokanku.

Sejak malam pertama itulah persahabatanku dengannya bermula. Setiap pagi menyapa, buku-buku Asiyah menjadi sarapan utamaku. Kedekatanku dengan buku yang bertuliskan tangan itu menjadi pererat persahabatanku dengannya. Dari buku-buku itulah aku belajar bagaimana tersenyum. Karena pada setiap lembarnya seakan menyihir bibirku melengkung dengan sendirinya membentuk sebuah indah bernama: S E N Y U M.

Iklan

Tentang TaQ

Hanya manusia biasa yang ingin terbiasa menjadi hamba Allah. Ingin terbiasa di jalan menuju RidhoNya dan berhasil mendapat jatah sebagai penghuni surgaNya.
Pos ini dipublikasikan di Cerita, Dunia Pena. Tandai permalink.

2 Balasan ke Senyum Persahabatan

  1. hmcahyo berkata:

    wah siip… “hidup lagi” masak kalah sama Ustz Abrar di abraruna.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s