Al Teen Al Mustaiqidh

Al Teen Al Mustaiqidh adalah tema dari sebuah Talk Show. Kalimat tersebut memiliki arti: “Tanah yang Terjaga”. DR. Nur Qarut & DR. Iman Al Magriby merupakan dua nara sumber dalam acara tersebut. Acara ini dilaksanakan oleh Nady Tau’iyah (Forum Pencerahan) yang ada di kampus Umm Al Qura University (UQU) Makkah Al Mukarramah.

Dua narasmber tersebut merupakan guru besar UQU. DR. Nur Qarut Ahli Syari’ah, sedangkan DR. Iman Al Maghriby ahli Tafsir Al Quran. Keduanya berkebangsaan Indonesia & Maroko yang memiliki kewarganegaraan Saudi. Hal itu dapat kita kenali dari nama belakang keduanya. Qarut merupakan bahasa Arab dari Garut. Sebuah kabupaten di Jawa Barat. Kemudian Al Maghriby merupakan bahasa Arab dari Maroko. Inilah bukti keragaman yang sesungguhnya di miliki Makkah. Keragaman yang disatukan oleh Al ‘Aqeedah Al Islamiyah. Kesempatan belajar yang sama bagi sesiapa pun tanpa melihat bangsa, warna dan bahasa. Karena Islam menjadi alasan yang dapat mengesampingkan perbedaan yang menyertai kehidupannya.

Kembali pada acara Talk Show. Acara tersebut dihadiri oleh kurang lebih 500-an mahasiswi UQU dari semua tingkatan. Cukup menyedot perhatian civitas akademika. Ruang dengan kapasitas 200-an orang tersebut tumpah ruah, hingga memenuhi koridor dan luar ruangan. Fantastis! Mengingat kegiatan ini dilaksanakan siang hari jam 14.00 – 16.00, tidak biasanya kegiatan yang dilaksanakan pada jam-jam tersebut akan menyedot banyak sekali peserta. Mungkin disamping tema yang diangkatnya cukup unik, juga dua narasumber tersebut yang selalu mampu menjadi magnet. Keduanya merupakan guru favorite yang selalu ditunggu majelis ilmunya.

Ada tujuh pertanyaan penting yang diajukan moderator dalam acara ini kepada kedua narasumber. Dua diajukan kepada keduanya secara bersamaan, lima yang lain secara bergilir. Pertanyaan tersebut adalah:

Apa makna Al Teen Al Mustaiqidh?
Pertanyaan ini diajukan kepada keduanya. “Manusia itu dicinptakan dari bahan dasar yang sama, dari tanah. Namun kemudian tingkat kesadaran yang dimiliki oleh masing-masing manusia itulah yang menjadi pembedanya. Tingkat kesadaran ini digerakkan oleh tingkat keimanan kepada Allah. Berbeda-beda tingkat keimanannya kepada Allah, maka berbeda pulalah tingkat kesadaran cara pandangnya. Sebut saja seorang muslim akan berbeda tingkat kesadaran dan cara pandangnya dengan orang non-muslim. Seorang muslim dengan keimanannya kepada Allah akan lebih berorientasi pada penyiapan hidup setelah mati. Sedangkan non-muslim akan berorientasi pada bagaimana memanfaatkan kehidupan untuk tujuan matari belaka.” Demikian jawaban DR. Nur Qarut.

“Istilah ini unik. Pendengar dari kata ini akan dibuat penasaran. Saya memaknai bahwa istilah ini sangat sesuai digelarkan kepada manusia yang bacaan utamanya adalah Al Quran & Al Sunnah dan seorang yang dapat mengetahui kelemahannya kemudian berupaya menutupnya dengan mengembangkan kelebihannya. Hal ini dapat berlaku ketika dia mengetahui secara komprehensif tentang agamanya.” Jawab DR. Iman melengkapi jawaban DR Nur Qarut.

DR. Nur, Sebutkan untuk kami tiga yang membuat Muslimah itu lebih unggul daripada yang lainnya!
“Muslimah itu memiliki kesucian hati, karena Allah memiliki porsi terbesar dalam hatinya. Muslimah itu memiliki kesucian jasmani, karena wudlu minimal lima kali membersihkan jasmani dan rohaninya. Muslimah juga memiliki kesucian dalam kehormatannya, karena Allah mengatur pola pergaulan antara lelaki dan perempuan dalam syari’atNya.” Jawaban singkat padat yang cukup menyadarkan kami, bahwa seharusnya tiga hal ini harus terus diupayaproseskan dalam kehidupan kami, hingga software keunggulan ini benar nyata menjadi penampilan jasmani dan ruhaninya.

Apa gambaran hijab bagi seorang Muslimah, wahai DR Iman?
“Perempuan itu memiliki pintu-pintu yang membangunkan fitnah yang tidur. Pintu-pintu itu terdapat pada keseluruhan tubuhnya. Karena itu kemudiaan Allah mensyari’atkan kepadanya menghijabi tubuhnya untuk menjaganya, bukan untuk membatasi gerak aktivitasnya. Hijab itu menutupi keseluruhan tubuhnya dengan kain yang tidak transparan dan tidak membentuk lekuk tubuh. Kita harus membaca tuntas ayat-ayat hijab yang terdapat di dalam Al Quran. Terlebih lagi di dalam surat An Nur, di sana kita akan mendapati bagaimana kita membangun masyarakat yang maju dengan syari’at Allah, diantara dengan syari’at hijab ini. Kita juga harus membaca sejarah bagaimana hijab perempuan-perempuan sekitar Nabi Muhammad saw. Karena kehidupan mereka adalah mata air uswah yang tiada mengenal kata ‘habis’ bagi kehidupan muslimah yang hidup setelahnya.”

Wahai DR. Nur, Apakah Non-Muslimah Melihat Muslimah dengan Pandangan yang Sempit?
“Iya, karena mereka tidak mengetahui bagaimana seorang muslimah yang sebenarnya. Mereka hanya mendapatkan informasi dari media. Sebagaimana kita ketahui tidak semua media mengabarkan Islam secara obyektif.” Jawab DR. Nur yang kemudian dilanjutkan dengan mengisahkan tentang betapa bebasnya kehidupan Non-Muslimah di barat, sehingga banyak dari mereka yang kemudian iri dengan kehidupan muslimah.

“Bawa saya ke negerimu, menjadi kalian sungguh bahagia, Islam perlakukan kalian seperti putri raja, sangat Istimewa!” Demikian salah satu respon dari mereka, ketika teman DR Nur yang berada di UK menjawab pertanyaan mereka tentang bagaimana Islam mengatur kehidupan muslimah.

“Menyambung dari apa yang diceritakan DR Nur, saya pernah mengalami sesuatu yang tiada akan pernah saya lupa. Waktu itu saya berlibur dengan keluarga ke luar Mamlakah Saudi dengan menumpangi pesawat terbang. Saya duduk dekat jendela bersama putri saya yang memilih membaca Al Quran dengan suara yang tidak nyaring, namun cukup terdengar oleh saya dan mungkin orang di depan dan di belakang kami, tak lama dari itu ada seorang Ibu yang ada di depan kami menyapa saya dan menanyakan bacaan yang dibaca putri saya. Dia bilang tidak pernah sekalipun dia mendengar bacaan tersebut, terdengar istimewa dan indah katanya. Kemudian saya jelaskan panjang lebar tentang bacaan tersebut. Yang cukup menyesakkan hati saya adalah dia tidak hanya tahu Al Quran, bahkan dia tidak pernah tahu kalau ada agama yang bernama Islam. Dia berjanji akan mencari dan membacanya sesampai di negaranya. Semoga jika Allah beri hidayah pahalanya mengalir juga kepada anak saya sebagai pembukan baginya jalan hidayah.” Tambah DR Iman mengabarkan kepada kami bahwa masih banyak sekali orang yang tidak tahu tentang Islam. Menyemangati kami untuk terus mendakwahkannya.

Apa Tanggapanmu bagi Orang yang Mengatakan bahwa Muslimah itu Tidak Memiliki Kebebasan yang Mutlaq?
“Siapa bilang seorang Muslimah itu tidak memiliki kebebasan mutlak? Pernyataan itu salah besar, justru seorang muslimah itu memilki kebebasan yang tiada dimiliki oleh perempuan selainnya. Syari’at Allah telah menjadikannya terbebas dari penyembahan kepada selain Allah. Apakah ada kebebasan yang lebih mutlaq dari kebebasan macam ini? Tentu saja tidak pernah ada ceritanya.”

Nasehat Anda untuk Kami, agar Kami Bangga Menjadi Seorang Muslimah?
“Anak-anakku tercinta, ambillah yang baik yang mereka miliki, namun ingatlah bahwa imanmu adalah harta yang paling berharga yang kalian miliki. Tebarlah kebaikan diantara manusia. Berupayalah kuat, jangan lemah! Gunakan waktumu dengan sebaik-baiknya dalam ketaatan kepada Allah. Kenalilah dirimu untuk kemudian jadikan modal untuk selalu melakukan perbaikan. Teguhlah di atas keimananmu!” Deretan nasehat DR Nur yang mencerahkan.

“Nasehat saya adalah lakukanlah nasehat DR Nur itu, maka bahagia, sukses dan berkah akan meliputi kehidupan kalian!” Tambah DR Iman yang disambut tepuk tangan meriah. Hingga kemudian acara ini berakhir dengan penyerahan kenang-kenangan kepada kedua narasumber dan doa kaffaratul majelis.

Iklan
Dipublikasi di Cerita, Dunia Eja, Dunia Hikmah, Mengeja Jalan Pulang | Meninggalkan komentar

Refleksi

Ketika baper dan galau melanda semesta kita. Baper berseliweran mengganggu katalisasi rasa. Galau bertebaran menghambat anabolisasi kata. Saatnya hempaskan baper dan hengkangkan galau kita. Agar ‘dewasa’ mengemuka menjadi pilihan bagi setiap rasa, kata dan cita kita.

Baris kalimat tersebut di atas sama sekali bukan ungkapan kekesalan. Namun bentuk keprihatinan yang sedang terjadi  di sekitar saya. Melanda seorang teman yang sedang Allah beri ujian untuk mengumpulkan pahala dengan menguatkan kesabaran. Menjalani hidup berjauhan dengan sepotong hatinya, sebut saja suaminya.

Emosinya seringkali tidak terkontrol, sehingga banyak sekali jenaknya terlewati hanya untuk menernak berbagai kemungkinan. Tersingkirlah sekian kewajiban membaca dan memahami diktat kuliah, menulis makalah dan meresume referensi penting.

Siapalah saya dengan celoteh sok tahu saya? Mudah lisan melontarkan nasehat dan menghiburnya, namun saya tidak tahu apakah kemudian jika saya berada di posisinya bisa melewati ujian ini semudah nasehat yang terlontar? Tentu saja jawabannya saya tidak tahu.

“Silakan galau dan baper, tugasku saat ini mengisi ruangmu dengan tawa! Hingga jika Allah gilirkan aku mengalami apa yang sedang kau alami, kamu bisa berperan sebagaimana peranku saat ini.” Entah celoteh saya ini menghibur atau bahkan menyakitkannya, saya tidak tahu. Itulah yang sementara saya bisa lakukan.

Kalau bisa saya katakan ini semacam refleksi. Sebuah pembelajaran mahal yang Allah berikan secara gratis di hadapan saya. Agar saya dapat menyerapnya dengan sebaik-baiknya. Kalaupun nantinya Allah tidak menaqdirkan saya melewati suasana yang sama, ini tetap menjadi referensi bagi pendewasaan pilihan saya. Jikapun nantinya suasana yang sama ini Allah taqdirkan saya mengalaminya di tahun-tahun yang akan datang, semoga ini menjadi modal berharga saya dalam menemukan solusi tepat, semoga hidayah Allah meliputi pilihan yang akan saya ambil, hingga Allah taqdirkan saya bisa melewatinya dengan baik, insyaAllah.

 

 

Dipublikasi di Caring | Meninggalkan komentar

Nasehat Kematian

Dalam sepekan ini terdengar tiga kabar seni berpulang yang indah.  Pada satu sisi kabar ini musibah yang menyisakan ruang ‘kehilangan’ bagi karib kerabatnya pada khususnya dan pada umat yang mengenalinya pada umumnya. Namun pada sisi lainnya kabar ini kabar yang cukup ampuh untuk membangunkan setiap diri yang terbetot oleh jeratan kelalaiannya. Seiris dengan “Kafaa bil mauti wa’idha!” sebuah titik  kebenaran atas sabda Rasulullah Saw tersebut.

DR. Khalid Abdullah Al Quraisy. Dosen Jurusan Ad Da’wah al Thaqafah al Islamiyah Fakultas al Da’wah wa Usuluddin, UQU Makkah.  Beliau berpulang setelah mengimami shalat ashar di Masjid dekat rumahnya. Salah satu bentuk berpulang dengan husnul khatimah, insyaAllah.

“Semoga Allah menjadikan surga sebagai tempat abadi bagi Abu Abdillah el Quraisy. Sungguh beliau saudara dan tetangga yang baik, istrinya adalah teman baik saya. Ruang pustakannya adalah tempat ternyaman ketika saya  menulis tesis. Saya haji bersama mereka tahun lalu, beliau dan istrinya yang mengantarkan saya ke rumah. Rumahnya adalah gudang yang berisi bantuan untuk orang-orang yang membutuhkan, khususnya Tullab el Wafideen (Pelajar non-saudi). Beliau benar-benar Ahl Fadl wa SolahRahimahullah wa rahimna idza sirna ila ma soro ilaihi ba’da solahi ‘amalin wa husni khatimah.” Demikian kesaksian DR. Maryam Abu ‘Ali salah seorang guru kami di Ma’had Al Lughah UQU.

Dua hari setelahnya kami mendengar kabar kepergian salah seorang mahasiswa wafideen dari salah satu negara Afrika Jazar al Qamar.  beliau meninggal setelah 12 hari koma, setelah terjatuh dari bus yang mengantarkannya pulang dari halaqah tahfidz, menuju asramanya, namun di tengah jalan ia minta berhenti untuk menyambung thalab al ‘ilm di halaqah selanjutnya. Dalam perjalanan meniti jalan ilmu. Sebuah seni berpulang yang indah. Salah satu bentuk mati syahid.

Pada hari yang sama, terdengar kabar berpulangnya Syeikh al ‘Allamah Ahmad ‘Abdurrazaq al Kubaysi, seorang Da’i terkenal dengan kesolihannya. Da’i dan ‘Aalim keturunan Iraq yang tinggal di Makkah. Beliau  meninggal setelah dipindahkan dengan pesawat khusus dari sebuah rumah sakit  di Riyadh ke rumah sakit “Medebul” di Istanbul  Turki, atas perintah Presiden Racep Erdogan.  Perlakuan istimewa ini bukan tanpa sebab, karena beliau salah seorang ulama yang berjasa dalam mencetak ulama agama di Turki, banyak sekali karya tulis beliau yang diterjemahkan ke dalam bahasa Turki. Selama hidupnya beliau juga pernah menjadi dosen tetap di Umm Al Qura University.

“Pada angka 83 tahun beliau tutup usia. Harapan bahwa Baba akan kembali sehat lebih besar kali ini, dibanding ketika Baba dirawat di Rumah Sakit di Saudi. Setelah shalat maghrib dan makan malam, kakak tertua kami disuruh membaca surat Al Baqarah di samping Baba, hingga sampai pada ayat 186, Baba memegang erat tangan kakak, hingga terlepas bersama hembusan nafas terakhirnya. Itulah taqdir Allah, ciintaNya kepada Baba lebih besar dari harapan kami, insyaAllah. Allah tumbuhkan sabar, semoga Baba husnul khatimah.” Urai Ilham dalam senyum yang menyembunyikan duka, salah seorang putri beliau -yang Allah taqdirkan saya mengenalnya-.

Saya tidak mengenal Ilham secara dekat. Hanya beberapa kali satu syu’bah dalam beberapa mata kuliah. Namun beberapa bulan ini Allah dekatkan kami. Setelah dia mengundurkan diri dari proyek penulisan tesis: “adh Dhawabith al Fiqhiyah min khilal kitab Badai’ Sanai’ lil Kasany”. Allah taqdirkan saya menggantikan posisinya. Sejak itu saya selalu berbincang dengannya meliputi penggarapan proyek tersebut.

Demikianlah kematian telah mengabarkan nasehatnya bagi yang masih hidup. Semoga Allah taqdirkan kita kembali kepadaNya dengan seni berpulang yang indah.

 

Dipublikasi di Dunia Hikmah, Mengeja Jalan Pulang | Meninggalkan komentar

Pertemuan

Setelah 14 tahun kami tidak bertemu, Allah pertemukan kami kembali di Makkah, setelah pekan haji berakhir. Perhelatan haji yang agung selalu menjadi momen pertemuan. Bertemu dengan kerabat, sahabat dan beragam warna umat sedunia.

Ia teman sekelas saya ketika kuliah di Malang. Namanya Mbak Utami. Di kelas beliau termasuk yang kami tuakan, bukan karena usianya yang lebih tua dari kami. Namun dari pembawaan dewasa beliaulah hingga secara natural kami menaruh hormat yang lebih daripada kepada teman lainnya. Saran dan pertimbangan beliau lebih banyak menjadi pilihan yang kami ambil.

Tahun ini Allah taqdirkan beliau menyempurnakan rukun islamnya dengan melaksanakan haji. Dari Auni salah seorang teman saya juga, saya mendapatkan informasi tersebut. darinya juga saya mendapat no kontak Mbak Utami. Alhamdulillah kembali terhubung silah ukhuwah kami. Kamipun membuat janji untuk bertemu. Satu dua juga janji belum mempertemukan kami. Hingga janji ke empat baru benar-benar kami bertemu. Melepas rindu yang telah lama tersimpan rapi di bilik memori kami.

“Itulah, Taq kita hanya bisa buat janji. Realitanya taqdir Allah jualah yang akan bicara!” Simpul Mbak Ut setelah pertemuan itu berlaku. Keyakinan ini menguat disertai peristiwa yang dialami Mbak Ut dan saudarinya yang kebetulan juga sedang menunaikan haji. Namun berbeda tempat dan waktu berangkatnya. Tentu hotelnya pun kemudian berbeda.

“Berapa kali janji yang aku buat dengan mbakku untuk ketemu, baik sewaktu kami di Madinah ataupun juga di Makkah, semua gagal mempertemukan kami. Akhirnya aku serahkan semua kepada Allah untuk mengatur pertemuan kami. Ternyata kepasrahan itu menjadi kejutan indah dari Allah. Pertemuan terjadi di waktu dan tempat yang tiada pernah kami sangka. Allah pertemukan kami di Mina pada Ayyamut Tasyrik.”

“Itulah rahasia pasrah kepada Allah, selalu ada momen indah yang Allah persiapkan untuk kita!” Ujarnya lagi melengkapi puzzle hikmah yang ditemukannya.
Jumat 17 Dzulhijjah 1438 H saya menyambanginya di hotelnya di Al Aziziyah Al Janubiyah.

Dipublikasi di Caring | Meninggalkan komentar

Peluang Perempuan Belajar di UQU

Belajar di UQU Makkah Al Mukarramah dapat dilakukan melalui dua jalur: Muntadhimah dan Mustami’ah. Apa perbedaan dari kedua jalur tersebut?

Muntadhimah merupakan jalur pendaftaran resmi yang dilakukan secara online. Sedangkan Mustami’ah merupakan jalur pendaftaran secara langsung di Makkah. serta peluang ini  bagi perempuan  yang sudah muqim dan mengantongi izin tinggal di Saudi.

Apa kelebihan dan kekurangan dari kedua jalur tersebut? Bagi muntadhimah akan mendapatkan beasiswa penuh dari pemerintah Saudi. Sedangkan mustami’ah berkesempatan belajar gratis tanpa mendapat uang saku bulanan, fasilitas asrama, dan tiket pulang kampung. Jalur muntadhimah usianya tidak lebih dari 23 tahun. Sedangkan bagi mustami’ah tidak dibatasi usia. Kedua jalur tersebut akan mendapat perlakuan yang sama  dalam proses belajar pada jenjang ma’had Al Lughah Al ‘Arabiyah (persiapan masuk S1).

Muntadhimah akan sangat mudah melanjutkan ke jenjang selanjutnya (S1) jika lulus ma’had dengan predikat mumtaz atau jayyid jiddan murtafi’. Berbeda pada mustami’ah yang akan sangat panjang birokrasinya yang harus dilalui. Walau demikian bagi mustami’ah akan memiliki peluang belajar ke jenjang berikutnya, namun UQU tidak akan mengeluarkan baginya syahadah (ijazah) setelah lulus nanti.

Mustami’ah lulusan ma’had UQU dapat juga melanjutkan ke jenjang berikutnya melalui jalur Intisab (sejenis  cara belajar di universitas terbuka di Indonesia), jalur ini tidak gratis, dalam satu tahun jika belum berubah 5000 riyal SPPnya. Melalui jalur ini akan mendapat syahadah dan statusnya sama dengan muntadhimah yaitu sebagai alumni UQU.

Wallahua’lam.

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Peluang Mahasiswi Indonesia Belajar di Universitas Arab Saudi

“Emang ada mahasiswi dari Indonesia di Saudi?” Pertanyaan bernada heran ini kerap terlontar setiap kami mengenalkan diri sebagai pelajar di Umm Al Qura University Makkah. Tentu saja lontaran itu tidak salah, karena mahasiswi Indonesia yang belajar di Saudi masih terhitung dengan jari. Mengapa demikian? Saya belum dapat memastikan sebab utamanya apa? Hingga mahasiswi Indonesia di Saudi tidak sebanyak dengan mahasiswi Indonesia di negeri Timur Tengah lainnya. Apakah mungkin karena persyaratan harus bareng mahram? Mungkin juga demikian, namun hal itu bukan sebab utama. Alasan terbesarnya mungkin karena minimnya informasi bagaimana cara belajar di sini.

 

Untuk itu dalam tulisan ini saya akan berbagi informasi tentang peluang mahasiswi Indonesia belajar di Saudi. Mahram adalah syarat utama bagi mahasiswi manapun di dunia ini yang ingin belajar di perguruan tinggi Saudi. Hanya syarat mahram sajalah yang membedakan, sedangkan persyaratan lainnya sama dengan mahasiswa. Kecuali di King Abdullah University of Science and Tecnology (KAUST) tidak mensyaratkan mahram. Namun itu hanya berlaku bagi mahasiswi/mahasiswa pasca sarjana dengan jurusan Sains dan Teknologi.

 

Perguruan Tinggi di Saudi yang kemudian berpeluang menerima mahasiswi Indonesia diantaranya: Umm Al Qura University (UQU) Makkah, King Abdul Aziz University (KAU) Jeddah, King Abdullah University of Science and Tecnology (KAUST), King Saud University (KSU) Riyadh, Taibah University (TU) Madinah, dan Princess Nourah bint Abdulrahman University (PNU) Riyadh. Persyaratan masuk Perguruan Tinggi tersebut diantaranya: Ijazah, SKKB, Keterangan Sehat, Keterangan mahram, sebagian dari perguruan tinggi tersebut ada juga yang mensyaratkan surat rekomendasi dari dua tokoh masyarakat (semua berkas tersebut disalin/diterjemahkan dalam Bahasa Arab), foto copy Pasport dan pas foto (ukuran dan banyaknya disesuaikan dengan ketentuan setiap perguruan tinggi tersebut). Keterangan lebih lanjut dapat dibaca di website masing-masing perguruan tinggi tersebut yang akan saya sertakan di akhir tulisan ini. insyaAllah.

 

Apa kelebihan seorang mahasiswi belajar di Saudi? Pertama, kesempatan terbuka untuk menggenapkan rukun kelima Islam yaitu Haji, dengan biaya yang terjangkau. Kapan saja dapat melaksanakan umroh dan berkunjung ke dua Masjid dari tiga Masjid yang Rasulullah sabdakan untuk ada dalam tekad terdalam kita untuk mengunjunginya. Kedua, kita akan mendapatkan Ilmu tentang keislaman yang cukup dari sumber aslinya, Karena kita akan belajar dengan literatur dan dosen yang berbahasa Arab. Suasana dan lingkungan akademik yang seperti inilah kemudian memudahkan jalan bagi pemahaman terhadap Al Quran dan Hadits sebagai pedoman utama hidup kita.

 

Ketiga, selama belajar akan mendapatkan beasiswa penuh berupa uang saku, asrama gratis dan pulang kampung setiap tahun dengan tiket gratis. Keempat, mahasiswi di sini akan merasa sebagai ratu dan menjadi muslimah sebenarnya. Karena semua keperluan administrasi yang harus diselesaikan di kampus banin ada mahramnya yang siap membantu. Kemana-mana harus di dampingi dan ditemani mahramnya. Terlihat terbatas ruang geraknya, tapi jangan salah justru di sinilah kemudian seorang muslimah merasakan keindahan Islam dengan syari’atnya.

 

Sebuah catatan penting yang harus saya dan anda sekalian ingat, bahwa berkesempatan belajar di Univesitas yang ada di Arab Saudi itu bukan menjadi jaminan bahwa seorang yang beruntung tersebut lebih kece dan keren dari sesiapa yang belajar di selainnya. Tempat tidak selalu menjadi standart bagi kece dan kerennya seseorang. Taqwa tetap menjadi standart utama bagi kece dan kerennya (mulianya) seseorang di hadapan Allah. Akhirnya Wallahua’lam adalah pamungkas tulisan ini 🙂

 

***

Link Website resmi Perguruan Tinggi di Arab Saudi yang memberi peluang belajar bagi mahasiswi Indonesia: UQUKAUKAUSTTUKSUPNU

Link tulisan baheula saya yang mungkin dapat melengkapi tulisan ini: Nasehat dari Sebuah Pejalanan

Dipublikasi di Uncategorized | 13 Komentar

Kejutan Berharga

“Semester ini harus selesai sebelum Ramadhan!” Cetus Ala. Ia jubir kami. Penyambung lidah kami ke Qism. Dekan sudah setuju, segera pun kami menyusun jadwal. Lega rasanya tinggal hitungan hari pulang kampung. Bersit pikiran saya, walau materi ujian belum sepenuhnya saya siapkan tertata rapi di setiap neuron otak saya. Belum lagi tiga paper yang belum saya mulai tulis. Masih berbentuk kerangka. Entah kelegaan itu dari mana lahir?

Kelegaan itu memudar ketika dapat kabar bahwa Direktur Dirasat Ulya tidak menyetujui ujian kami majukan. Sudahlah, taqdirnya menjalani ramadhan di sini. Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Jatah mengeja materi ujian pun saya sedikitkan dengan memasukkan program di luar kuliah. tiga program berhasil saya setujui masuk dalam jadwal harian saya. Menemani akhwat membaca, menerjemahkan buku tentang Bayt al Maqdes dan menyusun rencana keputrian. Fokus pun mulai bercabang pada banyak titik. Alhamdulillah, lega kembali meluasi ruang hibur saya.

Setelah titik fokus itu baru saya mulai sesuaikan. Kejutan yang tiada terduga datang dari Raja Salman yang memberikan qararnya bahwa kegiatan belajar mengajar harus berakhir di akhir Sya’ban. Saya ikut merasakan kegembiraan teman-teman kelas saya. Namun jauh di lubuk hati saya ada sebuah beban berat yang terasa. Titik fokus itu harus saya ubah. Mengecilkan jatah program di luar kuliah, untuk kembali menyiapkan energi yang lebih besar untuk mengeja materi kuliah.

“Betapapun sempitnya waktu persiapan untuk ujian, jangan sesekali meninggalkan Al Quran, Taq!” Nasehat Amani. Teman kelas saya. Gadis Saudi yang tidak pernah mengalami mendapat nilai kecuali A+. Al Quran menjadi teman setianya. Itulah rahasia suksesnya. “Bersama Al Quran kita akan meraih sukses dunia akhirat!” Lanjutnya sambil meninggalkan saya dengan benak yang tiba-tiba nyaris gagal fokus.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar