Peluang Perempuan Belajar di UQU

Belajar di UQU Makkah Al Mukarramah dapat dilakukan melalui dua jalur: Muntadhimah dan Mustami’ah. Apa perbedaan dari kedua jalur tersebut?

Muntadhimah merupakan jalur pendaftaran resmi yang dilakukan secara online. Sedangkan Mustami’ah merupakan jalur pendaftaran secara langsung di Makkah. serta peluang ini  bagi perempuan  yang sudah muqim dan mengantongi izin tinggal di Saudi.

Apa kelebihan dan kekurangan dari kedua jalur tersebut? Bagi muntadhimah akan mendapatkan beasiswa penuh dari pemerintah Saudi. Sedangkan mustami’ah berkesempatan belajar gratis tanpa mendapat uang saku bulanan, fasilitas asrama, dan tiket pulang kampung. Jalur muntadhimah usianya tidak lebih dari 23 tahun. Sedangkan bagi mustami’ah tidak dibatasi usia. Kedua jalur tersebut akan mendapat perlakuan yang sama  dalam proses belajar pada jenjang ma’had Al Lughah Al ‘Arabiyah (persiapan masuk S1).

Muntadhimah akan sangat mudah melanjutkan ke jenjang selanjutnya (S1) jika lulus ma’had dengan predikat mumtaz atau jayyid jiddan murtafi’. Berbeda pada mustami’ah yang akan sangat panjang birokrasinya yang harus dilalui. Walau demikian bagi mustami’ah akan memiliki peluang belajar ke jenjang berikutnya, namun UQU tidak akan mengeluarkan baginya syahadah (ijazah) setelah lulus nanti.

Mustami’ah lulusan ma’had UQU dapat juga melanjutkan ke jenjang berikutnya melalui jalur Intisab (sejenis  cara belajar di universitas terbuka di Indonesia), jalur ini tidak gratis, dalam satu tahun jika belum berubah 5000 riyal SPPnya. Melalui jalur ini akan mendapat syahadah dan statusnya sama dengan muntadhimah yaitu sebagai alumni UQU.

Wallahua’lam.

 

 

 

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Peluang Mahasiswi Indonesia Belajar di Universitas Arab Saudi

“Emang ada mahasiswi dari Indonesia di Saudi?” Pertanyaan bernada heran ini kerap terlontar setiap kami mengenalkan diri sebagai pelajar di Umm Al Qura University Makkah. Tentu saja lontaran itu tidak salah, karena mahasiswi Indonesia yang belajar di Saudi masih terhitung dengan jari. Mengapa demikian? Saya belum dapat memastikan sebab utamanya apa? Hingga mahasiswi Indonesia di Saudi tidak sebanyak dengan mahasiswi Indonesia di negeri Timur Tengah lainnya. Apakah mungkin karena persyaratan harus bareng mahram? Mungkin juga demikian, namun hal itu bukan sebab utama. Alasan terbesarnya mungkin karena minimnya informasi bagaimana cara belajar di sini.

 

Untuk itu dalam tulisan ini saya akan berbagi informasi tentang peluang mahasiswi Indonesia belajar di Saudi. Mahram adalah syarat utama bagi mahasiswi manapun di dunia ini yang ingin belajar di perguruan tinggi Saudi. Hanya syarat mahram sajalah yang membedakan, sedangkan persyaratan lainnya sama dengan mahasiswa. Kecuali di King Abdullah University of Science and Tecnology (KAUST) tidak mensyaratkan mahram. Namun itu hanya berlaku bagi mahasiswi/mahasiswa pasca sarjana dengan jurusan Sains dan Teknologi.

 

Perguruan Tinggi di Saudi yang kemudian berpeluang menerima mahasiswi Indonesia diantaranya: Umm Al Qura University (UQU) Makkah, King Abdul Aziz University (KAU) Jeddah, King Abdullah University of Science and Tecnology (KAUST), King Saud University (KSU) Riyadh, Taibah University (TU) Madinah, dan Princess Nourah bint Abdulrahman University (PNU) Riyadh. Persyaratan masuk Perguruan Tinggi tersebut diantaranya: Ijazah, SKKB, Keterangan Sehat, Keterangan mahram, sebagian dari perguruan tinggi tersebut ada juga yang mensyaratkan surat rekomendasi dari dua tokoh masyarakat (semua berkas tersebut disalin/diterjemahkan dalam Bahasa Arab), foto copy Pasport dan pas foto (ukuran dan banyaknya disesuaikan dengan ketentuan setiap perguruan tinggi tersebut). Keterangan lebih lanjut dapat dibaca di website masing-masing perguruan tinggi tersebut yang akan saya sertakan di akhir tulisan ini. insyaAllah.

 

Apa kelebihan seorang mahasiswi belajar di Saudi? Pertama, kesempatan terbuka untuk menggenapkan rukun kelima Islam yaitu Haji, dengan biaya yang terjangkau. Kapan saja dapat melaksanakan umroh dan berkunjung ke dua Masjid dari tiga Masjid yang Rasulullah sabdakan untuk ada dalam tekad terdalam kita untuk mengunjunginya. Kedua, kita akan mendapatkan Ilmu tentang keislaman yang cukup dari sumber aslinya, Karena kita akan belajar dengan literatur dan dosen yang berbahasa Arab. Suasana dan lingkungan akademik yang seperti inilah kemudian memudahkan jalan bagi pemahaman terhadap Al Quran dan Hadits sebagai pedoman utama hidup kita.

 

Ketiga, selama belajar akan mendapatkan beasiswa penuh berupa uang saku, asrama gratis dan pulang kampung setiap tahun dengan tiket gratis. Keempat, mahasiswi di sini akan merasa sebagai ratu dan menjadi muslimah sebenarnya. Karena semua keperluan administrasi yang harus diselesaikan di kampus banin ada mahramnya yang siap membantu. Kemana-mana harus di dampingi dan ditemani mahramnya. Terlihat terbatas ruang geraknya, tapi jangan salah justru di sinilah kemudian seorang muslimah merasakan keindahan Islam dengan syari’atnya.

 

Sebuah catatan penting yang harus saya dan anda sekalian ingat, bahwa berkesempatan belajar di Univesitas yang ada di Arab Saudi itu bukan menjadi jaminan bahwa seorang yang beruntung tersebut lebih kece dan keren dari sesiapa yang belajar di selainnya. Tempat tidak selalu menjadi standart bagi kece dan kerennya seseorang. Taqwa tetap menjadi standart utama bagi kece dan kerennya (mulianya) seseorang di hadapan Allah. Akhirnya Wallahua’lam adalah pamungkas tulisan ini 🙂

 

***

Link Website resmi Perguruan Tinggi di Arab Saudi yang memberi peluang belajar bagi mahasiswi Indonesia: UQUKAUKAUSTTUKSUPNU

Link tulisan baheula saya yang mungkin dapat melengkapi tulisan ini: Nasehat dari Sebuah Pejalanan

Dipublikasi di Uncategorized | 13 Komentar

Kejutan Berharga

“Semester ini harus selesai sebelum Ramadhan!” Cetus Ala. Ia jubir kami. Penyambung lidah kami ke Qism. Dekan sudah setuju, segera pun kami menyusun jadwal. Lega rasanya tinggal hitungan hari pulang kampung. Bersit pikiran saya, walau materi ujian belum sepenuhnya saya siapkan tertata rapi di setiap neuron otak saya. Belum lagi tiga paper yang belum saya mulai tulis. Masih berbentuk kerangka. Entah kelegaan itu dari mana lahir?

Kelegaan itu memudar ketika dapat kabar bahwa Direktur Dirasat Ulya tidak menyetujui ujian kami majukan. Sudahlah, taqdirnya menjalani ramadhan di sini. Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Jatah mengeja materi ujian pun saya sedikitkan dengan memasukkan program di luar kuliah. tiga program berhasil saya setujui masuk dalam jadwal harian saya. Menemani akhwat membaca, menerjemahkan buku tentang Bayt al Maqdes dan menyusun rencana keputrian. Fokus pun mulai bercabang pada banyak titik. Alhamdulillah, lega kembali meluasi ruang hibur saya.

Setelah titik fokus itu baru saya mulai sesuaikan. Kejutan yang tiada terduga datang dari Raja Salman yang memberikan qararnya bahwa kegiatan belajar mengajar harus berakhir di akhir Sya’ban. Saya ikut merasakan kegembiraan teman-teman kelas saya. Namun jauh di lubuk hati saya ada sebuah beban berat yang terasa. Titik fokus itu harus saya ubah. Mengecilkan jatah program di luar kuliah, untuk kembali menyiapkan energi yang lebih besar untuk mengeja materi kuliah.

“Betapapun sempitnya waktu persiapan untuk ujian, jangan sesekali meninggalkan Al Quran, Taq!” Nasehat Amani. Teman kelas saya. Gadis Saudi yang tidak pernah mengalami mendapat nilai kecuali A+. Al Quran menjadi teman setianya. Itulah rahasia suksesnya. “Bersama Al Quran kita akan meraih sukses dunia akhirat!” Lanjutnya sambil meninggalkan saya dengan benak yang tiba-tiba nyaris gagal fokus.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Menemukan Inspirasi

Inspirasi itu bisa didapat dari siapa dan di mana saja, Taq! Kata Muneera menyemangati. Semangat itu telah memaksa saya memeras pikiran, menemukan judul yang tepat bagi risalah  saya. Beberapa sudah saya tulis dalam lembar pengingat,  dari tema tumbuhan, hewan sampai Baet el Maqdes. Ragam tema itu cukup membuat saya bingung untuk memilih. Menimbang maslahat dan manfaat,  juga kemampuan saya.

Dr. Ali Mahmady –Allah yahfadzuhu– sebagai guru Usul Fiqh semester ini, sekaligus anggota Majelis Qism, menjadi tempat konsultasi yang tepat. Allah jualah yang mengatur semuanya. Beliau begitu mengkhawatiri risalah kami. Setiap pertemuan beliau memberi waktu untuk kami konsultasi, mengarahkan kami menemukan topik yang tepat untuk kami jadikan bahasan bagi Risalah kami.

“Menulis Risalah itu jangan hanya sekedar menulis untuk memenuhi syarat menyandang gelar master. Jadikan Risalah kalian adalah jawaban bagi pertanyaan umat!” Nasehat emas yang menggerakkan kami untuk terus mencari, menyelami lautan tanpa tepi Ilmu Allah. Hingga kami menemukan ‘sesuatu’ yang berharga bagi kehidupan dunia akhirat kami.

Tentu saja setelah istisharah guru sudah tertunaikan. Saatnya istikharah digelar dan dipanjatkan. Hingga keyakinan bahwa yang berlaku adalah kebaikan yang Allah pilihkan untuk kehidupan dunia akhirat saya. Menguatkan tawakkal saya pada Dzat Penggenggam keseluruhan hidup saya.

#KembaliMengejaJalanPulang

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Bayt Al Maqdes

Nama itu mengusik saya untuk kembali menelisiki diri saya, adakah diri saya mengakui kesuciannya? Seberapa besar peduli saya terhadapnya? Seberapa saya mencintainya? Nama itu tidak asing. Sejak kecil Allah taqdirkan saya akrab dengan nama tersebut. Setiap tanggal 27 Rajab Ayah saya membahas kitab Al Dardeer ‘Ala Qissah Al Mi’raj. Sebuah kitab yang membahas peristiwa dari A-Z peristiwa perjalanan malam Nabi Saw dari Masjid Al Haram ke Masjid Al Aqsha kemudian naik ke langit hingga ke Sidratil Muntaha.

Rutinitas tersebut seharusnya membekali saya pemahaman yang utuh dan matang, bagaimana saya memposisikan nama tersebut dalam kehidupan saya. Namun sangat disayangkan, hal tersebut selama ini kajian tersebut hanya sekedar rutinitas belaka. Ternyata belum mampu menyadarkan saya bahwa nama tersebut harus menjadi bagian dari aqidah saya. Harus menjadi bagian dari upaya juang hidup saya di dunia ini.

Allah kemudian menaqdirkan saya bertemu dengan sebuah tulisan yang menyadarkan itu semua. Tulisan yang diberi tajuk “Gaza tidak Membutuhkanmu!”. Ditulis oleh Santi Soekanto -semoga Allah menjaganya-, salah seorang dari 12 Relawan Indonesia yang menjadi tim Freedom Flotilla to Gaza yang membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza. Tulisan tersebut Allah taqdirkan mengubah cara pandang saya yang selama ini memandang ‘nama’ tersebut sekedar nama yang hanya cukup diketahui sebagai bagian dari sejarah Islam.  Menjadi idealisme baru, bahwa  Bait Al Maqdes merupakan bagian identitas saya sebagai seorang  muslim yang mengharuskan saya untuk menjadi bagian dari perjuangan pembebasannya, ketika saat ini negeri tersebut sedang dalam jajahan bangsa yang sama sekali tidak memilki hak atas negeri tersebut.

Tulisan tersebut juga menjadi wasilah saya mengenal  Sahabat Al Aqsha. Sebuah lembaga kemanusiaan yang didirikan oleh penulis dengan suaminya. Hingga tahun 2012 Allah taqdirkan saya berinteraksi dengan lembaga tersebut dalam sebuah program “Nobar Film Tears of Gaza”. Saat itu melalui FLP Saudi Arabia, untuk pertama kali Allah taqdirkan saya bermuamalah dengan inspiring pasutri –Allah yahfadhuhuma– ini, walau melalui interaksi jarak jauh, namun kesempatan tersebut berhasil menyuntikkan semangat untuk melakukan ‘sesuatu’ bagi pembebasan Masjid Al Aqsha dari penjajahan Israel.

Melalui tulisan tersebut, Allah mempersaudarakan saya dengan anak-anak ideologisnya yang juga keponakan kandung mereka. Hingga kemudian saya  memanggil pasutri ini dengan Ode Santi dan Paman Dzikru, sebagaimana mereka dipanggil oleh anak-anaknya. Tentu saja menjadi keponakan ideologis keduanya adalah anugerah yang harus saya syukuri. Semoga ridho Allah & surga menjadi muara ukhuwah ini.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Inspiring Hafidzah

Amera namanya. Teman sekamar saya saat di asrama. Muslimah Mesir. Salah seorang Inspiring hafidzah yang Allah sempatkan saya menyerap langsung pendar cerlangnya.
 
Sejak dua belas tahun dalam usianya, Allah memuliakan otaknya bermemori keseluruhan Al Quran. Ibundanya yang tumbuh dari keluarga yang tidak peduli dengan pendidikan agama, Allah buka jalan hidayah baginya dengan tumbuhnya keinginan untuk mengganti pola jahili yang sedang memenuhi memori otaknya dengan Al Quran. Saat itu Amera masih balita. Itulah kemudian sunnatullah berlaku, seorang anak akan selalu mengikuti trend ibunya. Ibunya menghafal maka anaknya akan ikut menghafal. Hingga kemudian anak-ibu ini menjadi teman menghafal dan muraja’ah yang menyenangkan.
 
Amera selesai hafalannya, sang Ibu baru 10 juz berhasil dihafalnya. Apakah kemudian beliau berhenti? Tentu saja tidak. Selain karena tekadnya mengganti pola jahili yang sudah lama mengendapi memori otaknya dengan Al Quran, beliau juga ingin menemani tumbuh-kembang anak-anaknya -amera dan adikadiknya- dengan Al Quran. Maka beliaupun pantang menghentikan proyeknya, walau kemudian amera sudah berhasil bermemori Al Quran. Proyek itu pun terus bekerja membersamai tumbuh-kembang amera dan adik-adiknya.
 
Saat ini adik bungsunya sudah berusia 9 tahun dan telah berhasil menyelesaikan hafalannya. Bersama itu pula sang ibunda telah menyelesaikan qira’ah sab’ahnya.
 
Seorang yang memorinya Al Quran itu memiliki daya serap terhadap ilmu yang cepat, dibanding yang memori otaknya bukan Al Quran. Hal ini dapat saya lihat pada Amera dan keseluruhan keluarganya. Akselerasi hampir di semua jenjang pendidikannya. Usia 18 sudah selesaikan S1 kitab wa sunnah dari UQU.
 
Sejak kecil terbiasa dan menyukai membaca dan menulis. Tidak heran jika kemudian ia menjadi tempat terakhir sebagian besar kami wafidat saat itu, ketika kami deadlock untuk menyelesaikan tugas-tugas ta’bir. Sebuah kelemahan yang jamak dimiliki oleh para pemula dalam pembelajaran bahasa arab.
 
Ibunda Amera menjadi Ibu ideologis saya. Setiap hari Amera menelpon ibunya.Sesekali beliau menyapa saya. Menanyakan sudah makan siang, belajar dan detail aktifitas lainnya.
 
“Bersama Al Quran itu proyek sepanjang hidup, Taqoo!” Itu salah satu pesan beliau.
 
Amera saat ini telah berkeluarga. Allah karunia satu bidadari dan satu pangeran. Kami masih komunikasi melalui group WA yang berisikan teman-teman yang sempat satu asrama. Amera jarang online, karena ia tidak ingin anaknya melihatnya memegang hp. Dia pegang hp ketika anak-anaknya sudah pada tidur.
 
Anaknya yang paling tua saat ini berusia empat tahun. Sering protes kepadanya, setelah dia bertekad mengubah bahasa ‘ammiyahnya menjadi fusha. Tidak hanya protes, heran dan bengong menjadi ekspresi kebingungan anaknya melihat perubahan drastis Ibunya. Hal itu terjadi satu dua bulan awal perubahannya menggunakan bahasa fusha sebagai bahasa kesehariannya.
 
Hal tersebut bukan tanpa sebab. Justru karena kesadaran baru akan pentingnya bahasa Arab menjadi salah satu identitas keberislamannyalah, perubahan radikal itu diambilnya. Awalnya ia memulainya dengan suaminya setelah suaminya baru kemudian dengan anak-anaknya. Kini dia berhasil mengajak dua pertiga keluarga besarnya kembali menggunakan bahasa arab fusha. Bahasa Al Quran.
 
Kesadaran apakah yang kemudian menjadi titik balik Amera menggunakan bahasa Arab Fusha?
 
lilhaditsi baqiyah 🙂
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Upaya Kembali

“Taqi, berapa lama lagi?” Entah sudah berapa kali pertanyaan bernada protes itu terlontar dari teman kos saya. Protes ini terjadi setiap saya melakukan ritual “panggilan alam” sambil membawa serta apapun yang bisa saya baca.
 
Ritual ini mungkin terjadi karena gengguk caen reng madure. Saya tidak ingat kapan pastinya hal itu bermula. Seingat saya sih daya “lahap” saya terhadap segala sesuatu yang tertulis meningkat, sejak gedung DPR RI berbuahkan manusia dengan beragam warnanya. Yah, Demo Mahasiswa yang menuntut rezim waktu itu turun. Sejak itu saya jadi rajin menemani Aba membaca koran langganannya. Kegandrungan “melahap” tidak hanya asik dilakukan di kamar. Kemudian sedang membuang mutan juga berlaku ritual tersebut.
 
Ritual ini pun kemudian Ummi ketahui. Hingga sempat beliau juga murka karena mendapati jendela kamar mandi kami ada tumpukan koran, majalah dan buku. Bukan karena saya suka “lahap”nya sih murkanya. Namun, beliau menyayangkan saya melakukannya di tempat yang tidak layak. Murka beliau berlipat saat mengetahui salah satu majalah yang ada ditumpukan itu terdapat lafdzul jalalah. Saya jera tidak meninggalkan bacaan di kamar mandi. Namun, ritual itu tidak sepenuhnya bisa saya hilangkan.
 
Hingga ketika Allah taqdirkan saya mencari cahayaNya di Malang, ritual tersebut kebawa. Protes kemudian sesekali menjadi sarapan pagi dan makanan sore saya.
 
Apakah sekarang saya sudah tobat? Tentu saja jawabannya belum. Bahkan mungkin lebih “gila”. Dulu kertas yang ada tulisannya yang saya “lahap”, sekarang seringnya layar hp yang dipelototin, berselancar mengumpulkan serakan inspirasi.
 
“Mana ada inspirasi yang bening dan jernih dari jamban, Taq!” Bantah sinis teman flat terhadap dalih saya.
 
“Kalau hp yang dibawa, alamat dah sampai jamuran!” Sindirin indah lainnya.
 
Protes, sinis dan sindiran terhadap ritual tak terhormat saya itu berharmoni, meminta saya kembali ke jalan yang benar.
 
#Mengejajalanpulang
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar